Senin, 02 September 2013
JABATAN: PRESTASI ATAU PRESTISE?
“To be humble to superiors is duty, to equals courtesy, to inferiors nobleness” (Ben Franklin)
Sering kita mendapatkan adanya dikhotomi antara mengutamakan proses atau hasil. Bisa menimbulkan perbincangan panjang kalau kita sudah memperdebatkan antara proses dan hasil (process or result oriented). Terkadang kita merasa sedemikian pentingnya hasil yang ingin kita capai, sehingga kita terdorong untuk melakukan segala cara agar bisa segera mencapai hasil yang diinginkan tersebut. Hal ini menunjukkan kenyataan yang sering terjadi saat ini dimana hasil dipandang lebih penting daripada proses (the end justifies the means), dan kondisi seperti ini sering kita dengar atau temui dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu dampak adalah dorongan/tekanan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Karena setiap orang ingin dan harus menjadi yang terbaik, maka muncullah persaingan yang ketat satu sama lain. Walaupun persaingan sudah ada secara alamiah dalam rangka memunculkan hasil yang lebih baik, namun muncul dampak lain sebagaimana mengutip perkataan David Sarnoff: "Competition brings out the best in products and the worst in people."
Setiap anggota masyarakat umumnya mendapatkan dua jenis status dalam kelompok masyarakatnya, yaitu ascribed status (status di masyarakat yang umumnya diterjemahkan sebagai pemberian Tuhan sejak lahir dan melekat pada diri individu), yang antara lain terbentuk karena faktor keturunan dan umur. Di sisi lain manusia juga mendapatkan pengakuan berdasarkan achieved status (status di masyarakat yang dapat dimiliki oleh semua anggota masyarakat, namun untuk memperolehnya harus diperjuangkan).
Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat semakin menganggap achieved status sebagai sesuatu yang lebih layak dijadikan barometer keberhasilan seseorang. Dalam rangka mendapatkan achieved status yang diinginkan tersebut, persepsi anggota masyarakat mulai berubah dan mulai menganggap remeh keberadaan ascribed status. Padahal ascribed status yang bersifat natural justru biasanya mengedepankan nilai moral/spiritual seperti sopan-santun, terutama yang muda terhadap yang tua. Karena satu-satunya hal di dunia yang Tuhan tidak berikan kemampuan kepada manusia untuk merekayasa adalah umur/waktu. Bahkan salah satu ayat dalam Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia yang menyia-nyiakan waktu adalah termasuk orang yang merugi.
“I am always ready to learn, although I do not always like being taught”, demikian ungkapan yang disampaikan oleh Winston Churchill. Cara yang paling mendasar namun sekaligus juga paling ampuh untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain adalah dengan memiliki kemampuan untuk menjadi pendengar. Dengan kesediaan menjadi pendengar yang baik, bisa jadi kita telah saling memberikan hal yang paling penting dan paling dibutuhkan, yaitu perhatian kita. Keseriusan kita mendengarkan bisa menjadi sarana komunikasi dan menunjukkan empati yang lebih efektif, bahkan bila dibandingkan dengan kata-kata menghibur yang kita sampaikan.
“When people talk, listen completely. Most people never listen” (Ernest Hemingway). Mendengarkan adalah kemampuan tersendiri yang belum tentu bisa dimiliki dengan mudah oleh seseorang. Apa yang kerap terjadi di tengah masyarakat dan sering kita lihat adalah seseorang yang secara status sosial merasa lebih tinggi karena didorong oleh posisi yang berhasil dicapainya (achieved status), maka yang bersangkutan biasanya memiliki kecenderungan untuk tidak memiliki kemampuan “mendengarkan” orang yang ada di bawah pengaruhnya. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang yang lebih tua, bahkan pada orang yang lebih muda sekalipun!!
Listening is learning. Dengan mendengarkan, kita sekaligus juga belajar. Karena esensinya dari orang bodoh sekalipun kita bisa belajar, minimal belajar untuk tidak meniru kebodohan orang tersebut. Mendengarkan juga sekaligus merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang sedang berbicara. Karena ada perbedaan yang signifikan antara bersikap hormat (salute) kepada seseorang dengan menghormati (respect) seseorang. Pada waktu kita bersikap hormat kepada lawan bicara, bisa jadi hal tersebut kita lakukan hanya secara fisik karena pertimbangan atribut fisik lawan bicara kita, misalnya karena kedudukannya yang lebih tinggi. Namun ketika kita menghormati lawan bicara, maka sikap hormat yang kita berikan lebih tulus (mental attitude) karena rasa penghargaan yang kita berikan kepada lawan bicara. Dengan kata lain, seseorang yang menghormati lawan bicaranya secara otomatis akan bersikap hormat. Sebaliknya seseorang yang bersikap hormat kepada lawan bicaranya belum tentu benar-benar menghormati lawan bicaranya tersebut.
"If there is any great secret of success in life, it lies in the ability to put yourself in the other's place and to see things from his point of view - as well as your own."
(Henry Ford)
Jumat, 22 Februari 2013
JALAN PINTAS: INOVASI ATAU EKSEPSI?
"Competition brings out the best in products and the worst in people." (David Sarnoff)
Sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa kita harus memutuskan apakah kita ingin membuat diri kita berguna, atau sekedar ingin menunjukkan kepada orang lain betapa bergunanya diri kita. Karena kebiasaan-kebiasaan baik yang kita lakukan muncul dari hal-hal yang sudah tertanam dalam pikiran kita (mindset). Hal yang paling sulit adalah apabila kita berusaha untuk bernegosiasi melawan pikiran kita, karena hasilnya pasti kekalahan bagi diri kita sendiri.
Banyak hal yang terjadi dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bagaimana seringnya suatu aturan yang dibuat berdasarkan paradigma pikiran manusia yang positif, teryata harus dikorbankan hanya karena konsensus sementara yang dibuat justru oleh manusia yang seharusnya menjaga aturan tersebut. Contoh yang paling sederhana adalah penggunaan voorijder sebagai pembuka jalan dimana konon sesuai ketentuan protokoler, voorijder dibolehkan di jalan raya namun hanya untuk pejabat setingkat kepala negara atau yang mewakili. Dalam prakteknya, siapapun dapat ”memanfaatkan” jasa voorijder bukan hanya untuk mengatasi kemacetan, tapi juga supaya kelihatan sebagai orang penting. Padahal orang yang kelihatan penting belum tentu dianggap orang berguna yang bisa dijadikan teladan, malah sebaliknya menimbulkan preseden buruk dan menunjukkan ketidakmampuannya untuk menjadi role model. Contoh lainnya adalah aparat kepolisian mengizinkan pemakai jalan untuk menggunakan jalur seberang di beberapa jalan di Jakarta pada waktu-waktu tertentu, sehingga kendaraan berjalan di jalur yang berlawanan arah.
Contoh diatas menggambarkan cara-cara instan, atau yang biasa diistilahkan dengan ”jalan pintas”, yang sayangnya ditempuh dengan mengabaikan aturan. Walaupun belum tentu salah, namun disadari ataupun tidak, cara-cara tersebut sebetulnya hanya mengalihkan atau menunda masalah, bukan menyelesaikannya. Penundaan atau pengalihan yang terus-menerus seperti ini hanya akan merubah mindset orang-orang dan merubah kebiasaannya untuk selalu mencari jalan pintas. Dampaknya secara sosial bisa menjadi pembenaran yang dipaksakan dan akhirnya menghilangkan empati satu sama lain.
PENGALAMAN MEMBENTUK MINDSET
Pengalaman merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan dan ikut membentuk kemampuan seseorang. Pengalaman selalu bermakna positif dan memberi kebaikan bagi orang yang menjalani karena bisa memberi hikmah, sehingga dikatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Karena itu semestinya tidak ada yang namanya pengalaman buruk; yang ada hanyalah kejadian yang dialami seseorang di masa lalunya dan dipersepsikan serta direspons secara negatif. Seseorang dikatakan istiqomah apabila konsisten dalam memaknai setiap kejadian yang dialaminya secara positif karena didorong mindset untuk selalu belajar dan mengambil hikmah.
Seseorang yang melewati kejadian demi kejadian dalam kehidupannya selama 10 tahun belum tentu dapat dikatakan memiliki pengalaman selama 10 tahun, apabila kejadian-kejadian tersebut tidak menambah value dalam kehidupannya melainkan hanya bertambahnya usia. Dalam pekerjaan, pegawai yang demikian dikatakan hanya memiliki jam kerja yang tinggi, namun belum tentu dapat dikatakan memiliki pengalaman kerja yang lama pula. Untuk merubah jam kerja menjadi pengalaman kerja perlu adanya job enrichment yang memberikan nilai tambah, apalagi bila didorong oleh inisiatif yang muncul dari dirinya sendiri.
Hubungan atasan-bawahan akan memberi nilai tambah apabila ditandai dengan adanya kesamaan dan konsistensi dalam mindset. Contoh adanya anekdot atau anggapan bahwa kalau atasan diam karena sedang berpikir sementara apabila anak buah diam karena tidak mengerti, menunjukkan adanya standar ganda yang menimbulkan hubungan ”dekat di mata, jauh di hati” karena atasan dan bawahan tidak berbagi pengalaman yang sama.
Lihatlah bagaimana upaya Jokowi merubah Jakarta. Keinginan dan upayanya untuk memperbaiki kondisi fisik kota Jakarta seperti fasilitas dan prasarana umum lainnya harus dibarengi dengan upaya membangun trust dan meyakinkan masyarakat agar memahami apa yang sedang dan akan dilakukannya sehingga masyarakat secara berjamaah menerima (buy in) secara sukarela dan mau merubah mindsetnya menyesuaikan dengan langkah perubahan yang sustainable walaupun membutuhkan ”pengorbanan” untuk keluar dari kebiasaan lama.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana menepati janji secara konsisten untuk menjaga harapan dan kepercayaan (promise delivery), karena ketidakpuasan akibat tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikan akan memicu ketidakpercayaan yang bisa berwujud pada tindakan-tindakan kontraproduktif, dan upaya mengembalikan mindset justru membutuhkan effort yang jauh lebih besar lagi.
Kehidupan manusia memerlukan inovasi sebagai salah satu bentuk ”jalan pintas” untuk memotong jalur proses sehari-hari sehingga memberikan kemudahan dan kenyamanan. Namun pelaksanaan inovasi yang mendorong terjadinya pembenaran-pembenaran (tidak sejalan dengan kebutuhan bersama) atau justru menimbulkan dampak negatif bagi sebagian orang lain, hanya akan diterima sebagai eksepsi yang dilakukan untuk memuaskan kepentingan tertentu yang bersifat sesaat namun dampaknya bisa merusak mindset positif yang sudah terbentuk.
Kamis, 31 Januari 2013
MENYEMPURNAKAN PERENCANAAN KEUANGAN
“Weakness of attitude becomes weakness of character.” – Albert Einstein
Beberapa waktu lalu kita disuguhkan berita tentang seorang pegawai kebersihan sebuah bank syariah di Jakarta yang menemukan uang ratusan juta rupiah di tempat sampah kantor tempat dia bekerja. Namun orang tersebut sama sekali tidak berkeinginan untuk memiliki uang jutaan rupiah temuannya tersebut walaupun tidak ada orang yang mengetahui kejadian penemuannya, karena tahu uang tersebut tidak akan barokah.
Sementara itu, informasi yang dirilis oleh Gallup mengenai hasil survey yang dilakukan terhadap penduduk negara-negara di dunia baru-baru ini, menyimpulkan bahwa kekayaan belum tentu memberikan jaminan kebahagiaan bagi individu, karena adanya tuntutan kesempurnaan yang bersifat duniawi sehingga sulit untuk dicapai/dipuaskan.
Dalam salah satu kesempatan ceramah memperingati Isra’ & Mi’raj di Mesjid An Nur Plaza Mandiri, seorang ustadz menyampaikan bahwa ada 3 (tiga) hal yang menjadi problem dalam kehidupan manusia di dunia dewasa ini, yaitu: sikap individualistis, rendah diri, dan ketidakpekaan terhadap sekitar. Solusinya, menurut sang ustadz, harus ada perubahan ke arah yang lebih baik dengan didasari semangat berjamaah/bekerja bersama serta semangat mencapai kesempurnaan, baik fisik maupun kepribadian yang pada akhirnya akan menghasilkan kinerja yang sempurna pula.
Hikmah dari uraian kisah diatas yang dapat kita petik adalah perlu adanya keseimbangan dalam kehidupan setiap insan manusia (life balance). Keberhasilan duniawi yang dicapai oleh setiap individu harus diimbangi dengan rasa syukur, yang memberikan kebahagiaan di hati (fulfillness) sehingga orang tersebut dapat menikmati hidup sepenuhnya baik lahir maupun batin.
Kisah petugas kebersihan diatas memberikan inspirasi kepada kita untuk sedapat mungkin menghindari grey area dalam pemahaman halal dan tidak halal (termasuk yang meragukan/subhat). Di sisi lain, kejujuran si petugas menjadi nilai tambah bagi perusahaannya karena service quality adalah masalah persepsi yang bersifat intangible.
Yang perlu dipahami oleh setiap manusia yang beriman adalah bahwa rezeki tidaklah sama dengan barokah, karena menurut pemahaman Penulis, rezeki bersifat tangible sementara barokah bersifat intangible. Walaupun kedua hal tersebut bisa dipersepsikan secara subyektif sama seperti halnya bagaimana orang mempersepsikan batasan halal-haram, namun titik temu subyektifitas tersebut adalah hati nurani (consciens) setiap manusia yang bersifat universal karena bersumber dari kebenaran hakiki dari Allah.
Perasaan barokah muncul dari keikhlasan hati apabila kita sering memberi kepada orang lain dalam bentuk apapun, karena itu artinya kita sudah bisa merasa lebih dari cukup dan merasa bahagia bila bisa membuat orang lain bahagia. Sebaliknya, orang yang tidak diberi barokah oleh Allah akan selalu merasa kekurangan atas rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya, sehingga hatinya selalu merasa berat untuk berbagi karena dia takut kekurangan
Orang yang mendapatkan barokah adalah orang yang mampu memandirikan hatinya dari pengaruh atau unsur keduniawian yang berlebihan, dan menjadikan hati nuraninya sebagai teman dekat yang akan selalu menjadi “early warning system” apabila orang tersebut dihinggapi rasa kikir ataupun kekhawatiran bahwa rezeki yang telah didapatnya dari usaha dan kerja kerasnya akan berkurang. Orang yang demikian akan mampu memberi ataupun berbagi kepada orang lain tanpa ada pamrih apapun, karena hanya mengharapkan keridhoan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Yang Maha Memberi rezeki. Memberi dengan ikhlas tidaklah sama dengan menghargai, dimana kita memberi karena didasari oleh rasa terimakasih atas jasa atau perbuatan baik seseorang terhadap kita sehingga merupakan timbal-balik.
Terkait dengan upaya pengelolaan rezeki yang kita peroleh agar bisa menjadi barokah namun tetap terencana dengan baik, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui apa yang Penulis usulkan sebagai Charity Planning (CP). Pada dasarnya CP merupakan pengembangan/modifikasi dari Financial Planning (FP) yang digunakan oleh para perencana keuangan saat ini untuk mengelola rezeki yang diterima.
Sedikit berbeda dari FP, tujuan CP tidak hanya mencapai kekayaan (wealth) beserta embel-embel yang mengikutinya seperti kekuasaan, kesehatan dan penampilan karena semua itu diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang tidak kekal. Tujuan CP adalah mengejar tujuan akhir yang lebih pasti dan kekal, yaitu kehidupan di akhirat. Namun bukan berarti tidak berusaha mengejar rezeki di dunia, karena justru semakin banyak rezeki yang diperoleh, maka akan semakin banyak pula amal dan sedekah yang bisa diberikan.
Seperti halnya konsep “4 Sehat, 5 Sempurna”, konsep FP yang didasarkan pada pilar-pilar yaitu Asset Allocation, Time Horison, Investment Objectives, Return Profile & Periodic Review digambarkan sebagai menu “Sehat”. Agar “Sempurna”, diperlukan pengelolaan sedekah (charity) untuk melengkapi perencanaan yang dibuat sehingga tidak hanya berorientasi kebahagiaan di dunia tapi juga di akhirat.
Dengan meminjam istilah-istilah dalam berinvestasi, maka zakat yang kita tunaikan setiap tahun diibaratkan sebagai “Subcription & Maintenance Fee” dan merupakan investasi minimal yang harus dilaksanakan dalam CP. Selanjutnya terdapat “Installment Premium” maupun “Top-Up” dalam bentuk jariah, infaq, sedekah maupun amal-amal lain yang diberikan sesuai keikhlasan dan rasa kecukupan masing-masing. Yang menarik dari CP adalah hasil investasinya dijamin tidak pernah merugi. Jaminan langsung dari Allah yang dinyatakan dalam Al Qur’an ini bahkan dilengkapi pula dengan ilustrasi hasil investasi yang bersifat mutlak, yaitu dilipatgandakan hingga 700 kali. Seperti firman Allah dalam surat Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang akan kamu dustakan? Ketika kebaikan-kebaikan kamu berbalas kebaikan” (Fabi ayyi ala irabbikuma tukazziban; Hal jazaul ihsan ilal ihsan), mari mulai sekarang kita merencanakan investasi akhirat kita!!
”Service to others is the rent you pay for your room here on Earth.” – Muhammad Ali
Selasa, 18 Desember 2012
MENTAL WIRAUSAHA PEGAWAI
“Don’t judge each day by the harvest you reap, but by the seeds you plant.”
--- Robert Louis Stevenson
Beberapa waktu lalu muncul berita di media massa tentang wacana yang dilontarkan oleh Menteri Keuangan mengenai pensiun pegawai negeri sipil (PNS). Wacana yang disampaikan Menteri Keuangan adalah untuk mengganti fasilitas pensiun dan fasilitas kesehatan PNS, yang bentuknya diusulkan akan diberikan di muka sekaligus (lumpsum). Pertimbangan yang mendasari Menteri Keuangan menyampaikan usulan tersebut adalah bahwa jika wacana ini bisa dijalankan, maka Pemerintah sebagai employer akan dapat melakukan penghematan APBN hingga 20% pertahun!!!
Wacana yang disampaikan tersebut seharusnya dapat dilihat sebagai langkah positif pemerintah dalam rangka menciptakan posisi saling menguntungkan (win-win situation) baik bagi pemerintah maupun bagi para PNS. Bagi PNS, wacana tersebut diharapkan dapat memotivasi mereka agar lebih kreatif dan inovatif dalam mempersiapkan diri menghadapi pensiun, khususnya dalam mengelola uang pensiunnya, sehingga mereka memiliki kesempatan lebih luas dalam mengembangkan diri. Mereka diharapkan akan mulai membangun visi sendiri yang jelas dalam menghadapi masa pensiun, dan meyakini bahwa hal tersebut bergantung pada persiapan yang lebih awal dari fase kehidupan.
Bagaimana dengan kondisi para pegawai di Bank Mandiri yang sebagian diantaranya berasal dari 4 legacy bank pemerintah? Menarik untuk kita pahami apa yang kita dengar tentang pengalaman para pensiunan legacy bank, termasuk yang mengikuti program pensiun dini. Banyak diantara mereka yang mendapat uang pesangon yang jumlahnya cukup besar. Namun ternyata tidak sedikit cerita yang kita dengar tentang para pensiunan yang tidak mampu mempertahankan, apalagi mengembangkan, uang pesangon yang diterimanya. Banyak dari mereka karena terbiasa bersikap pasif dalam mengelola uangnya sehingga malah terjebak dalam penawaran investasi instan yang tampak menjanjikan, atau tidak dapat menahan godaan hidup konsumtif karena kurangnya informasi dan kemampuan mengelola kekayaannya. Seperti mengutip ucapan Lewis Carroll: “If you don’t know where you are going, any road will get you there”.
Belakangan ini manajemen mulai memberikan himbauan kepada para pegawai setiap kali akan dilakukan pembayaran insentif tahunan, agar pegawai berhemat dan menggunakan uang tersebut dengan bijaksana, antara lain untuk berinvestasi. Hal ini merupakan langkah awal yang baik, apalagi biasanya disertai dengan munculnya ‘iklan’ ajakan berinvestasi di Dana Pensiun di tengah gencarnya iklan dari Administrator intranet yang menawarkan berbagai kemudahan berbelanja yang menggoda. Namun langkah yang demikian masih belum cukup karena himbauan tersebut sifatnya hanya musiman sehingga bagaikan peringatan tanpa memberikan alternatif solusi apa yang bisa diambil pegawai. Akhirnya penawaran Dana Pensiun yang terkesan “product push” dikalahkan oleh tawaran belanja yang pasti lebih menggoda.
If you fail to plan, you are planning to fail
“Risk comes from not knowing what you’re doing”, demikian ungkapan yang disampaikan oleh Warren Buffett. Banyak orang mengidentikkan investasi dengan resiko sehingga cenderung menolak produk-produk investasi yang mengekspos resiko. Cara pandang seperti ini dikhawatirkan mendorong mereka untuk menerima tawaran-tawaran investasi yang menjanjikan imbal-hasil yang menggiurkan dalam waktu dekat tanpa ada resiko. Disinilah perlunya upaya untuk merubah mental pegawai agar lebih mampu menghadapi resiko sehingga lebih proaktif dalam mengelola kekayaannya dalam rangka mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi masa pensiun.
Saat ini, pembekalan hanya diberikan kepada pegawai yang memasuki usia menjelang pensiun berupa pengetahuan praktis tentang berbagai bidang usaha potensial yang dapat dijalani pada masa pensiun. Sementara pegawai-pegawai yang masih lama masa aktifnya tidak dipersiapkan dengan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan, sehingga mereka tetap dengan mental dan gaya hidup yang cenderung konsumtif (termasuk dalam berhutang). Padahal yang juga harus dipersiapkan sejak awal adalah kemampuan dan mental pegawai untuk berwirausaha dan mandiri dalam mengelola keuangannya.
Salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan manajemen adalah dengan memberikan pembekalan/pengetahuan tentang pengelolaan kekayaan (wealth management), antara lain melalui kegiatan sosialisasi Financial Planning (FP) kepada setiap pegawai secara aktif, berkesinambungan dan persuasif/memotivasi agar pegawai menjadikan FP sebagai bagian dari gaya hidup. Perubahan gaya hidup dari konsumtif menjadi terencana tersebut akan mendorong perubahan mental pegawai menjadi mandiri secara finansial, dan pada gilirannya membentuk mental wirausaha.
Keberhasilan manajemen dalam membentuk perubahan mental pegawainya secara bertahap hingga siap berwirausaha pada waktu pensiun akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Di satu sisi, pegawai yang mampu mengelola keuangannya dengan baik selama bekerja di perusahaan akan tumbuh semangat dan motivasinya dalam bekerja sehingga memberikan kontribusi positif kepada perusahaan. Di sisi lain, mantan pegawai yang sukses menjalani kehidupan setelah pensiun dari perusahaan bisa meningkatkan perceived value perusahaan dalam pengelolaan SDM di mata stakeholders, sekaligus meningkatkan engagement pegawai yang masih aktif karena ada nilai kualitatif yang diyakini akan diterima pegawai berupa future expectation.
"Try not to become a man of success, but rather a man of value." -- Albert Einstein
Jumat, 31 Agustus 2012
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS DALAM MARKETING YANG ISLAMI
"You can't build a reputation on what you are going to do."
(Henry Ford).
Konon di satu alkisah, suatu ketika seorang salesman handal meninggal dunia. Dalam perjalanan menuju akhirat, arwahnya dicegat oleh malaikat penjaga pintu surga dan neraka. Sang salesman handal tersebut meminta kepada malaikat agar dirinya diberi kesempatan sekilas melihat dahulu kondisi masing-masing di surga dan di neraka. Tentu saja sang malaikat menolak permintaan tersebut, dan menyatakan bahwa sudah ditentukan kemana dia akan dimasukkan. Namun dengan kehandalannya membujuk dan merayu pembeli pada waktu di dunia, dia terus berusaha mempengaruhi malaikat dengan beragumentasi segala sesuatu tentunya negotiable alias “bisa dibicarakan”. Entah bagaimana caranya, sang malaikatpun memberikan kesempatan tersebut.
Singkat cerita, salesman tersebut diajak “mengintip” keadaan di surga dan neraka. Di surga, dia melihat hal-hal yang damai namun membosankan baginya, sementara di neraka dia melihat berbagai hal yang menyenangkan yang merupakan kegemarannya semasa hidup, seperti hura-hura dan dugem. Maka ketika kembali ke tempat malaikat, salesman tersebut minta agar dia dapat dimasukkan ke dalam neraka karena menurut dia “gue banget”. Setelah sepakat, maka pergilah sang malaikat mengantar salesman tersebut menuju neraka. Ketika pintu dibuka, ternyata yang ada hanya api dan siksaan. Tentu saja salesman protes karena neraka yang tadi dilihatnya melalui pintu bukan seperti yang dilihatnya sekarang. Namun sang malaikat menjawab dengan tenang: “Tadi pada waktu melihat pertama yang menyenangkan, anda masih prospect untuk masuk neraka. Keadaan neraka yang sesungguhnya adalah etelah anda pasti menjadi penghuninya!!”.
Cerita diatas yang Penulis dengar dari salah seorang sales trainer dalam suatu workshop tersebut hanya merupakan suatu ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana dalam selling process terkadang seorang penjual terjebak (atau terbiasa?) untuk memberikan “janji surga” kepada calon pembelinya karena didorong oleh tujuan untuk bisa segera closing dan mendapatkan nasabah baru, yang identik dengan fulus baginya dari hasil penjualan. Keberhasilan seorang penjual atau pemasar diukur dari keberhasilannya menjual, tentu kita semua sudah maklum. Pertanyaannya: apakah yang mendorong seorang salesman untuk melakukan hal diatas maupun berbagai cara lain yang serupa untuk mendapatkan tujuannya tersebut?
A verbal agreement isn't worth the paper it's written on
"Competition brings out the best in products and the worst in people", demikian statement yang pernah tercantum dalam salah satu situs web marketing. Mungkin itulah jawaban atas pertanyaan diatas. Persaingan yang ketat membuat para penjual melakukan hal-hal yang diutarakan diatas. Cara menjual demikian dapat menimbulkan persepsi negatif pembeli terhadap produk/jasa, bahkan terhadap brand yang diusung produk/jasa tersebut. Persepsi negatif tersebut muncul belum tentu karena kualitas produk/jasa yang buruk, namun karena pembeli merasa tidak mendapat seperti apa yang dijanjikan si penjual (unexpected promise delivery).
Kegiatan marketing seharusnya bertujuan untuk membangun dan membina relationship, bukan sekedar menjual barang atau jasa. Relationship, khususnya yang berkaitan dengan jasa (service) seharusnya merupakan sesuatu yang bersifat kualitatif. Karenanya harus berhati-hati dalam melakukan kuantifikasi untuk mengukur keberhasilan suatu relationship, karena apabila tidak sesuai justru bisa menimbulkan demotivasi.
Karenanya sebelum memberikan janji apalagi komitmen kepada pembeli, seorang penjual harus memahami situasi dan kondisi internal perusahaannya. Begitu juga atasan sebagai penyedia produk/jasa dalam menetapkan standar service level harus melihat dan mempertimbangkan kondisi anak buahnya di lapangan yang menjadi penjual. Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan sebelum membuat janji (promise delivery) adalah:
1. Timing/momentum merupakan suatu hal yang perlu diperhitungkan dalam melakukan marketing. Namun, persiapan yang kurang dapat menyebabkan terjadinya unexpected promise delivery/under service yang justru bisa menjadi bumerang bagi si penyedia service.
2. Benchmarking dengan kompetitor perlu dan sangat baik jika dapat dilakukan, tapi dalam menetapkan standar service level harus tetap realistis.
Ajaran Islam dapat dijadikan acuan untuk membentuk profesionalisme dan integritas dalam melakukan marketing, sesuai dengan tuntunannya untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Salah satu contoh etos kerja yang diajarkan dalam Islam adalah “Bekerjalah karena Allah, bukan karena pamrih pada orang lain. Maka anda akan memiliki integritas yang tinggi yang merupakan sumber kepercayaan dan keberhasilan”. Cara bekerja demikian akan menaikkan harga diri (dignity) seseorang, karena orang tesebut akan selalu terjaga profesionalisme dan integritasnya.
Selanjutnya setelah menjaga profesionalisme dan integritas, maka penting dalam bekerja bahwa kita selalu berusaha sebisa mungkin menjaga konsistensi (istiqomah). Terkadang kita tergoda untuk membuat justifikasi yang seobyektif dan serealistis mungkin menurut kita. Hal itu untuk membenarkan apa yang kita sendiri sebenarnya sadari tidak seharusnya dilakukan. Keadaan ini akan menimbulkan kebingungan bukan hanya bagi orang lain, bahkan juga bagi kita sendiri.
Yang terakhir namun tidak kalah penting adalah tumbuhkan motivasi dan semangat untuk selalu bekerja keras dan cerdas serta ikhlas. Bekerja keras konotasinya menggunakan kekuatan fisik untuk mencapai target kinerja, dengan mengharapkan reward berupa materi. Bekerja cerdas lebih mengandalkan otak, dengan mengharapkan reward berupa recognition yang biasanya diikuti juga dengan materi. Bekerja ikhlas karena dorongan dari hati untuk melakukan yang terbaik, dengan mengharapkan reward berupa ridho dan berkah dari Allah. Seseorang yang menerapkan etos kerja Islam seperti yang disebutkan diatas, akan selalu berusaha menjaga keseimbangan motivasinya terhadap ketiga hal tersebut.
"Kesuksesan hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan atau raih demi diri sendiri. Kesuksesan hidup berhubungan dengan apa yang Anda lakukan pada sesama (untuk orang lain)" - Danny Thomas
Jumat, 24 Agustus 2012
MENDORONG ENGAGEMENT MELALUI INTERAKSI
"True leadership only exists if people follow when they have the freedom not to."
(Jim Collins, penulis “Good To Great”).
Dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan sejalan dengan visi dan misinya, setiap organisasi tentu mempunyai strategi untuk dapat mencapai tujuan tersebut sesuai rencana. Penyusunan strategi menjadi titik awal yang penting sebagai bagian dari proses pencapaian tujuan Namun, strategi yang telah disusun itu masih dalam tataran konsep yang perlu diimplementasikan lebih lanjut agar dapat memberikan hasil sesuai apa yang dicita-citakan oleh organisasi.
Dalam upaya melaksanakan strategi untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, pimpinan organisasi harus menetapkan langkah-langkah agar eksekusi strategi dapat dilaksanakan tepat sasaran secara efektif dan efisien. Salah satu faktor penting dalam eksekusi adalah keterlibatan seluruh anggota organisasi secara aktif
Partisipasi aktif dan positif seluruh anggota sesuai peran dan posisi masing-masing menjadi faktor kunci dalam eksekusi strategi. Namun untuk organisasi besar dengan jumlah anggota banyak, tentu perlu upaya yang luar biasa dari pimpinan organisasi agar mayoritas (jika tidak semua) anggota buy in terhadap program-program yang dibuat untuk mengeksekusi strategi. Hal ini juga yang akan menentukan tingkat engagement para anggota, yang diwujudkan dalam bentuk partisipasi:
• sekedarnya, karena mengikuti perintah pimpinan ataupun ikut-ikutan anggota organisasi yang lain;
• situasional, karena didorong ekspektasi terhadap iming-iming finansial/non finansial yang dijanjikan oleh pimpinan; atau
• sepenuhnya, karena didorong oleh rasa keterikatan dan tanggung jawab bersama setiap anggota yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh pimpinan
Engagement yang dimaksudkan terakhir mungkin bisa digambarkan seperti syair lagu lawas “Injit-injit semut……....siapa sakit naik ke atas……..walau sakit jangan dilepas”. Melalui penafsiran pribadi Penulis, engagement bisa diartikan secara bebas sebagai kelekatan (stickyness). Berkaitan dengan kata “lekat”, ada 2 (dua) hal yang Penulis ambil untuk diidentikkan dengan kata tersebut namun mempunyai konotasi yang berbeda. Kedua hal tersebut adalah ketan dan magnet, dua jenis benda yang sering kita temui dan bahkan gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketan yang berbentuk butiran-butiran, dimana dalam satu takaran ukuran (misalnya: liter) jumlah butirannya relatif banyak. Pada dasarnya setiap butir memiliki kemampuan melekat. Keberadaan butiran-butiran ketan menjadi lebih bermakna sebagai satu kesatuan karena mampu melekat satu sama lain tanpa ada yang mendominasi, karena masing-masing merasa bangga dimanapun posisi mereka (di bawah ataupun di atas). Kelekatan yang sempurna ini melalui proses memasak dan mengaduk, dimana ketan mengalami perubahan bentuk. Karena jika masih mentah (tidak dimasak dan diaduk), maka ketan-ketan tersebut hanya berkumpul tapi tidak menyatu. Kunci dari kelekatan (engagement) yang digambarkan oleh ketan adalah trust dan keyakinan bahwa semua posisi penting.
Di sisi lain, kelekatan antara dua batang magnet atau lebih karena ada salah satu batang magnet yang berusaha “mengejar” batang magnet yang lain supaya mendekat dan melekat, sementara batang magnet yang lainnya bisa jadi hanya pasif/menunggu didekati. Kedua batang magnet dapat melekat hanya apabila sisi kedua batang magnet yang bertemu tersebut memiliki kutub yang berbeda. Hal kondisional tersebut membuat kelekatan antar batang magnet tidak fleksibel, karena lebih banyak ditentukan oleh kondisi batang magnetnya sendiri yang memang sama sekali tidak mengalami perubahan bentuk.
Walaupun hasil akhir dari kedua versi (ketan dan magnet) sama yaitu berguna/berfungsi setelah saling melekat, tapi proses melekat dan tingkat kelekatan antara ketan dan magnet tentu saja berbeda. Hal ini akan berpengaruh terhadap tindak lanjut dari eksekusi yang dilakukan organisasi. Karena semakin lekat atau engaged anggota organisasi, maka proses eksekusi akan semakin mudah dan berkesinambungan, bukan hanya “hangat-hangat tahi ayam”.
Kunci dari keberhasilan diatas adalah trust. Dalam kehidupan, kita sering melihat kenyataan bahwa seseorang selalu mendekat pada mereka yang meningkatkan taraf hidupnya, dan menjauh dari siapapun yang malah merendahkan. Kenyataan hidup lainnya adalah bahwa kemampuan seseorang untuk mengerti tidak secara otomatis membuatnya memiliki kemampuan untuk berubah.
Disinilah diperlukan kemampuan pemimpin organisasi untuk mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik dalam rangka membangun trust anggota organisasi sehingga mau berubah. Karena cara paling mendasar dan efektif untuk berhubungan dengan orang lain adalah hanya dengan mendengarkan. Bisa jadi hal terpenting yang dapat kita berikan kepada orang lain adalah perhatian kita, dengan cara kita mau diam mendengarkan orang lain berbicara, dan bukan hanya kita yang terus berbicara, sebaik apapun kata-kata yang kita sampaikan.
Senin, 23 Juli 2012
PENTINGNYA PROSES DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
“Should you find yourself in a chronically leaking boat, energy devoted to changing vessels is likely to be more productive than energy devoted to patching leaks”
Tulisan diatas dikutip dari Warren Buffet, salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di dunia khususnya berkaitan dengan cara-cara menguasai perekonomian dunia dengan konsep-konsep kapitalisme global dan intervensi melalui pasar uang maupun pasar modal di negara-negara maju maupun negara berkembang. Hampir semua dari kita tentunya pernah mendengar nama tokoh tersebut yang sampai sekarang masih hidup di Amerika.
Namun yang menarik dari sosok seorang Warren Buffet sendiri adalah kesederhanaannya dalam menjalani kehidupannya, bertolak belakang dengan yang dilakukannya untuk mempengaruhi dan menguasai perekonomian di dunia melalui ekspansi kapitalisme secara global. Ternyata hinggga di usia senja, Warren Buffet hidup sangat sederhana bersama isterinya tercinta, di rumah sederhana yang pertama kali mereka miliki. Warren Buffet juga masih menggunakan mobil sederhana mereka, serta kehidupannya dijalani dengan tinggal di rumah menonton acara televisi maupun kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Hal diatas bagaikan sebuah paradoks. Seseorang seperti Warren Buffet yang secara outward looking tampaknya memiliki visi untuk “menguasai” ekonomi dunia melalui penguasaan pasar dan modal (kapitalisme global) yang identik dengan hawa nafsu keserakahan dan eksploitasi tanpa batas terhadap sumberdaya-sumberdaya yang tidak mengenal belas kasihan, ternyata tidak demikian untuk kehidupan pribadinya (inward looking) dimana hawa nafsunya dapat dikendalikan sedemikian rupa sehingga merasa puas dengan menikmati fasilitas yang serba terbatas, walaupun sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan lebih.
Kalau kita melihat ke masa kanak-kanak, ada dua jenis permainan anak-anak yang kita kenal dengan dua pola permainan yang berbeda dan dapat menggambarkan kondisi kontradiktif diatas. Kedua permainan kompetisi tersebut adalah monopoli dan congklak.
Seperti kita ketahui, permainan monopoli sesuai namanya adalah jenis permainan yang sejalan dengan karakteristik kapitalisme (zero-sum game) dimana setiap pemain di”doktrin” untuk berusaha memiliki dan mendominasi aset-aset penting dan strategis yang dapat menjadi mesin uang bagi yang memiliki, apalagi bila menguasai kompleks aset tersebut. Semakin vital suatu aset dalam menguasai hajat hidup orang banyak (seperti perusahaan listrik, air, dan transportasi), maupun aset dengan nilai yang semakin tinggi karena lokasinya yang strategis sehingga apabila lawan mau tidak mau harus “tinggal” di sana maka akan dibebani dengan sewa yang sangat mahal. Seorang pemain dinyatakan menang apabila lawannya bangkrut
Sebaliknya, permainan tradisional yang kita kenal dengan nama congklak justru menggambarkan bagaimana seseorang bisa menang tanpa harus menghancurkan lawan, yaitu dengan mendapatkan biji congklak lebih banyak namun tetap “menyisakan” biji congklak yang sudah dijkuasai lawannya sehingga lawannya tidak harus kalah dalam keadaan bangkrut. Hal ini sangat menggambarkan situasi yang “win-win”, bertolak belakang dengan situasi “win-lose “ atau “zero sume game”.
Permainan congklak menuntut pemainnya untuk memiliki strategi yang fokus dan mengacu pada visi yang jelas. Bagaimana setiap pemain harus tetap mengisi “kantong-kantong” di wilayah lawan sebagai bagian dari strategi untuk memenangkan kompetisi. Hal tersebut mengajarkan kepada pemain agar tidak hanya berpikir untuk meraup keuntungan jangka pendek saja dengan menimbun “kantong-kantong” yang ada di wilayahnya karena setiap kantong yang ada di wilayahnya belum mutlak menjadi miliknya. Kesalahan strategi dan perhitungan justru bisa memberikan kesempatan bagi lawan untuk menguasai dan memiliki seluruh isi kantong di wilayah kita yang “gemuk” karena kita selalu menimbun.
Visi: Process or Result Oriented?
Menurut pandangan penulis, process oriented bukanlah berarti seseorang melakukan suatu strategi tanpa tujuan, namun justru diiringi oleh tujuan-tujuan antara yang selalu mendampingi selama proses dan sifatnya hakiki karena didasarkan nilai-nilai keilahian seperti jujur, sabar dan konsisten. Sedangkan result oriented menetapkan/memastikan sejak awal tujuan akhir yang akan dan harus dicapai dengan cara pembenaran apapun untuk dapat mencapainya. Walaupun tampak sejalan, namun karena tujuan yang ingin dicapai oleh mereka yang process oriented lebih bersifat kualitatif, maka seringkali hal tersebut tidak bisa diterima oleh mereka yang result oriented karena segala sesuatunya harus bisa dihitung alias kuantitatif (atau bahkan dikapitalisasi).
Kapitalisme bagaikan bola salju yang digelindingkan dari atas bukit dan diharuskan mencapai kaki bukit dengan skala tertentu yang lebih besar dan biasanya dengan waktu yang ditentukan pula. Karena tujuan akhir yang sudah ditentukan dan bahkan diperhitungkan, maka dianggap harus selalu ada cara untuk dapat mencapai tujuan tersebut dan tidak boleh ada excuse. Perumpamaan bola salju diatas, maka medan yang dihadapi selalu dianggap ”menurun” karena tempat tujuan akhir yang berada di bawah sehingga harus lancar dan mudah mencapainya. Setiap halangan yang ada membuat bolah ”memecah diri” atau jika sudah cukup besar akan menghantam halangan tersebut asal bisa sampai di bawah. Sesampainya di bawah yang berakhir di jurang, dari target hanya satu bola besar menjadi lebih banyak bola besar sehingga yang menjadi tujuan akhir tersebut justru tidak sanggup menampung begitu banyaknya bola yang tidak terduga. Lama-kelamaan tidak tertahan dan kaki bukitpun longsor. Sungguh sebuah tragedi!
Kita mungkin bisa bersatu saat berjuang menghadapi masalah. Namun, ujian terbesar justru datang saat kemenangan. Karena saat itulah nafsu serakah akan datang menggoda kita
Langganan:
Postingan (Atom)