Jumat, 31 Agustus 2012
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS DALAM MARKETING YANG ISLAMI
"You can't build a reputation on what you are going to do."
(Henry Ford).
Konon di satu alkisah, suatu ketika seorang salesman handal meninggal dunia. Dalam perjalanan menuju akhirat, arwahnya dicegat oleh malaikat penjaga pintu surga dan neraka. Sang salesman handal tersebut meminta kepada malaikat agar dirinya diberi kesempatan sekilas melihat dahulu kondisi masing-masing di surga dan di neraka. Tentu saja sang malaikat menolak permintaan tersebut, dan menyatakan bahwa sudah ditentukan kemana dia akan dimasukkan. Namun dengan kehandalannya membujuk dan merayu pembeli pada waktu di dunia, dia terus berusaha mempengaruhi malaikat dengan beragumentasi segala sesuatu tentunya negotiable alias “bisa dibicarakan”. Entah bagaimana caranya, sang malaikatpun memberikan kesempatan tersebut.
Singkat cerita, salesman tersebut diajak “mengintip” keadaan di surga dan neraka. Di surga, dia melihat hal-hal yang damai namun membosankan baginya, sementara di neraka dia melihat berbagai hal yang menyenangkan yang merupakan kegemarannya semasa hidup, seperti hura-hura dan dugem. Maka ketika kembali ke tempat malaikat, salesman tersebut minta agar dia dapat dimasukkan ke dalam neraka karena menurut dia “gue banget”. Setelah sepakat, maka pergilah sang malaikat mengantar salesman tersebut menuju neraka. Ketika pintu dibuka, ternyata yang ada hanya api dan siksaan. Tentu saja salesman protes karena neraka yang tadi dilihatnya melalui pintu bukan seperti yang dilihatnya sekarang. Namun sang malaikat menjawab dengan tenang: “Tadi pada waktu melihat pertama yang menyenangkan, anda masih prospect untuk masuk neraka. Keadaan neraka yang sesungguhnya adalah etelah anda pasti menjadi penghuninya!!”.
Cerita diatas yang Penulis dengar dari salah seorang sales trainer dalam suatu workshop tersebut hanya merupakan suatu ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana dalam selling process terkadang seorang penjual terjebak (atau terbiasa?) untuk memberikan “janji surga” kepada calon pembelinya karena didorong oleh tujuan untuk bisa segera closing dan mendapatkan nasabah baru, yang identik dengan fulus baginya dari hasil penjualan. Keberhasilan seorang penjual atau pemasar diukur dari keberhasilannya menjual, tentu kita semua sudah maklum. Pertanyaannya: apakah yang mendorong seorang salesman untuk melakukan hal diatas maupun berbagai cara lain yang serupa untuk mendapatkan tujuannya tersebut?
A verbal agreement isn't worth the paper it's written on
"Competition brings out the best in products and the worst in people", demikian statement yang pernah tercantum dalam salah satu situs web marketing. Mungkin itulah jawaban atas pertanyaan diatas. Persaingan yang ketat membuat para penjual melakukan hal-hal yang diutarakan diatas. Cara menjual demikian dapat menimbulkan persepsi negatif pembeli terhadap produk/jasa, bahkan terhadap brand yang diusung produk/jasa tersebut. Persepsi negatif tersebut muncul belum tentu karena kualitas produk/jasa yang buruk, namun karena pembeli merasa tidak mendapat seperti apa yang dijanjikan si penjual (unexpected promise delivery).
Kegiatan marketing seharusnya bertujuan untuk membangun dan membina relationship, bukan sekedar menjual barang atau jasa. Relationship, khususnya yang berkaitan dengan jasa (service) seharusnya merupakan sesuatu yang bersifat kualitatif. Karenanya harus berhati-hati dalam melakukan kuantifikasi untuk mengukur keberhasilan suatu relationship, karena apabila tidak sesuai justru bisa menimbulkan demotivasi.
Karenanya sebelum memberikan janji apalagi komitmen kepada pembeli, seorang penjual harus memahami situasi dan kondisi internal perusahaannya. Begitu juga atasan sebagai penyedia produk/jasa dalam menetapkan standar service level harus melihat dan mempertimbangkan kondisi anak buahnya di lapangan yang menjadi penjual. Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan sebelum membuat janji (promise delivery) adalah:
1. Timing/momentum merupakan suatu hal yang perlu diperhitungkan dalam melakukan marketing. Namun, persiapan yang kurang dapat menyebabkan terjadinya unexpected promise delivery/under service yang justru bisa menjadi bumerang bagi si penyedia service.
2. Benchmarking dengan kompetitor perlu dan sangat baik jika dapat dilakukan, tapi dalam menetapkan standar service level harus tetap realistis.
Ajaran Islam dapat dijadikan acuan untuk membentuk profesionalisme dan integritas dalam melakukan marketing, sesuai dengan tuntunannya untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Salah satu contoh etos kerja yang diajarkan dalam Islam adalah “Bekerjalah karena Allah, bukan karena pamrih pada orang lain. Maka anda akan memiliki integritas yang tinggi yang merupakan sumber kepercayaan dan keberhasilan”. Cara bekerja demikian akan menaikkan harga diri (dignity) seseorang, karena orang tesebut akan selalu terjaga profesionalisme dan integritasnya.
Selanjutnya setelah menjaga profesionalisme dan integritas, maka penting dalam bekerja bahwa kita selalu berusaha sebisa mungkin menjaga konsistensi (istiqomah). Terkadang kita tergoda untuk membuat justifikasi yang seobyektif dan serealistis mungkin menurut kita. Hal itu untuk membenarkan apa yang kita sendiri sebenarnya sadari tidak seharusnya dilakukan. Keadaan ini akan menimbulkan kebingungan bukan hanya bagi orang lain, bahkan juga bagi kita sendiri.
Yang terakhir namun tidak kalah penting adalah tumbuhkan motivasi dan semangat untuk selalu bekerja keras dan cerdas serta ikhlas. Bekerja keras konotasinya menggunakan kekuatan fisik untuk mencapai target kinerja, dengan mengharapkan reward berupa materi. Bekerja cerdas lebih mengandalkan otak, dengan mengharapkan reward berupa recognition yang biasanya diikuti juga dengan materi. Bekerja ikhlas karena dorongan dari hati untuk melakukan yang terbaik, dengan mengharapkan reward berupa ridho dan berkah dari Allah. Seseorang yang menerapkan etos kerja Islam seperti yang disebutkan diatas, akan selalu berusaha menjaga keseimbangan motivasinya terhadap ketiga hal tersebut.
"Kesuksesan hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan atau raih demi diri sendiri. Kesuksesan hidup berhubungan dengan apa yang Anda lakukan pada sesama (untuk orang lain)" - Danny Thomas
Jumat, 24 Agustus 2012
MENDORONG ENGAGEMENT MELALUI INTERAKSI
"True leadership only exists if people follow when they have the freedom not to."
(Jim Collins, penulis “Good To Great”).
Dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan sejalan dengan visi dan misinya, setiap organisasi tentu mempunyai strategi untuk dapat mencapai tujuan tersebut sesuai rencana. Penyusunan strategi menjadi titik awal yang penting sebagai bagian dari proses pencapaian tujuan Namun, strategi yang telah disusun itu masih dalam tataran konsep yang perlu diimplementasikan lebih lanjut agar dapat memberikan hasil sesuai apa yang dicita-citakan oleh organisasi.
Dalam upaya melaksanakan strategi untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, pimpinan organisasi harus menetapkan langkah-langkah agar eksekusi strategi dapat dilaksanakan tepat sasaran secara efektif dan efisien. Salah satu faktor penting dalam eksekusi adalah keterlibatan seluruh anggota organisasi secara aktif
Partisipasi aktif dan positif seluruh anggota sesuai peran dan posisi masing-masing menjadi faktor kunci dalam eksekusi strategi. Namun untuk organisasi besar dengan jumlah anggota banyak, tentu perlu upaya yang luar biasa dari pimpinan organisasi agar mayoritas (jika tidak semua) anggota buy in terhadap program-program yang dibuat untuk mengeksekusi strategi. Hal ini juga yang akan menentukan tingkat engagement para anggota, yang diwujudkan dalam bentuk partisipasi:
• sekedarnya, karena mengikuti perintah pimpinan ataupun ikut-ikutan anggota organisasi yang lain;
• situasional, karena didorong ekspektasi terhadap iming-iming finansial/non finansial yang dijanjikan oleh pimpinan; atau
• sepenuhnya, karena didorong oleh rasa keterikatan dan tanggung jawab bersama setiap anggota yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh pimpinan
Engagement yang dimaksudkan terakhir mungkin bisa digambarkan seperti syair lagu lawas “Injit-injit semut……....siapa sakit naik ke atas……..walau sakit jangan dilepas”. Melalui penafsiran pribadi Penulis, engagement bisa diartikan secara bebas sebagai kelekatan (stickyness). Berkaitan dengan kata “lekat”, ada 2 (dua) hal yang Penulis ambil untuk diidentikkan dengan kata tersebut namun mempunyai konotasi yang berbeda. Kedua hal tersebut adalah ketan dan magnet, dua jenis benda yang sering kita temui dan bahkan gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketan yang berbentuk butiran-butiran, dimana dalam satu takaran ukuran (misalnya: liter) jumlah butirannya relatif banyak. Pada dasarnya setiap butir memiliki kemampuan melekat. Keberadaan butiran-butiran ketan menjadi lebih bermakna sebagai satu kesatuan karena mampu melekat satu sama lain tanpa ada yang mendominasi, karena masing-masing merasa bangga dimanapun posisi mereka (di bawah ataupun di atas). Kelekatan yang sempurna ini melalui proses memasak dan mengaduk, dimana ketan mengalami perubahan bentuk. Karena jika masih mentah (tidak dimasak dan diaduk), maka ketan-ketan tersebut hanya berkumpul tapi tidak menyatu. Kunci dari kelekatan (engagement) yang digambarkan oleh ketan adalah trust dan keyakinan bahwa semua posisi penting.
Di sisi lain, kelekatan antara dua batang magnet atau lebih karena ada salah satu batang magnet yang berusaha “mengejar” batang magnet yang lain supaya mendekat dan melekat, sementara batang magnet yang lainnya bisa jadi hanya pasif/menunggu didekati. Kedua batang magnet dapat melekat hanya apabila sisi kedua batang magnet yang bertemu tersebut memiliki kutub yang berbeda. Hal kondisional tersebut membuat kelekatan antar batang magnet tidak fleksibel, karena lebih banyak ditentukan oleh kondisi batang magnetnya sendiri yang memang sama sekali tidak mengalami perubahan bentuk.
Walaupun hasil akhir dari kedua versi (ketan dan magnet) sama yaitu berguna/berfungsi setelah saling melekat, tapi proses melekat dan tingkat kelekatan antara ketan dan magnet tentu saja berbeda. Hal ini akan berpengaruh terhadap tindak lanjut dari eksekusi yang dilakukan organisasi. Karena semakin lekat atau engaged anggota organisasi, maka proses eksekusi akan semakin mudah dan berkesinambungan, bukan hanya “hangat-hangat tahi ayam”.
Kunci dari keberhasilan diatas adalah trust. Dalam kehidupan, kita sering melihat kenyataan bahwa seseorang selalu mendekat pada mereka yang meningkatkan taraf hidupnya, dan menjauh dari siapapun yang malah merendahkan. Kenyataan hidup lainnya adalah bahwa kemampuan seseorang untuk mengerti tidak secara otomatis membuatnya memiliki kemampuan untuk berubah.
Disinilah diperlukan kemampuan pemimpin organisasi untuk mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik dalam rangka membangun trust anggota organisasi sehingga mau berubah. Karena cara paling mendasar dan efektif untuk berhubungan dengan orang lain adalah hanya dengan mendengarkan. Bisa jadi hal terpenting yang dapat kita berikan kepada orang lain adalah perhatian kita, dengan cara kita mau diam mendengarkan orang lain berbicara, dan bukan hanya kita yang terus berbicara, sebaik apapun kata-kata yang kita sampaikan.
Senin, 23 Juli 2012
PENTINGNYA PROSES DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
“Should you find yourself in a chronically leaking boat, energy devoted to changing vessels is likely to be more productive than energy devoted to patching leaks”
Tulisan diatas dikutip dari Warren Buffet, salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di dunia khususnya berkaitan dengan cara-cara menguasai perekonomian dunia dengan konsep-konsep kapitalisme global dan intervensi melalui pasar uang maupun pasar modal di negara-negara maju maupun negara berkembang. Hampir semua dari kita tentunya pernah mendengar nama tokoh tersebut yang sampai sekarang masih hidup di Amerika.
Namun yang menarik dari sosok seorang Warren Buffet sendiri adalah kesederhanaannya dalam menjalani kehidupannya, bertolak belakang dengan yang dilakukannya untuk mempengaruhi dan menguasai perekonomian di dunia melalui ekspansi kapitalisme secara global. Ternyata hinggga di usia senja, Warren Buffet hidup sangat sederhana bersama isterinya tercinta, di rumah sederhana yang pertama kali mereka miliki. Warren Buffet juga masih menggunakan mobil sederhana mereka, serta kehidupannya dijalani dengan tinggal di rumah menonton acara televisi maupun kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Hal diatas bagaikan sebuah paradoks. Seseorang seperti Warren Buffet yang secara outward looking tampaknya memiliki visi untuk “menguasai” ekonomi dunia melalui penguasaan pasar dan modal (kapitalisme global) yang identik dengan hawa nafsu keserakahan dan eksploitasi tanpa batas terhadap sumberdaya-sumberdaya yang tidak mengenal belas kasihan, ternyata tidak demikian untuk kehidupan pribadinya (inward looking) dimana hawa nafsunya dapat dikendalikan sedemikian rupa sehingga merasa puas dengan menikmati fasilitas yang serba terbatas, walaupun sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan lebih.
Kalau kita melihat ke masa kanak-kanak, ada dua jenis permainan anak-anak yang kita kenal dengan dua pola permainan yang berbeda dan dapat menggambarkan kondisi kontradiktif diatas. Kedua permainan kompetisi tersebut adalah monopoli dan congklak.
Seperti kita ketahui, permainan monopoli sesuai namanya adalah jenis permainan yang sejalan dengan karakteristik kapitalisme (zero-sum game) dimana setiap pemain di”doktrin” untuk berusaha memiliki dan mendominasi aset-aset penting dan strategis yang dapat menjadi mesin uang bagi yang memiliki, apalagi bila menguasai kompleks aset tersebut. Semakin vital suatu aset dalam menguasai hajat hidup orang banyak (seperti perusahaan listrik, air, dan transportasi), maupun aset dengan nilai yang semakin tinggi karena lokasinya yang strategis sehingga apabila lawan mau tidak mau harus “tinggal” di sana maka akan dibebani dengan sewa yang sangat mahal. Seorang pemain dinyatakan menang apabila lawannya bangkrut
Sebaliknya, permainan tradisional yang kita kenal dengan nama congklak justru menggambarkan bagaimana seseorang bisa menang tanpa harus menghancurkan lawan, yaitu dengan mendapatkan biji congklak lebih banyak namun tetap “menyisakan” biji congklak yang sudah dijkuasai lawannya sehingga lawannya tidak harus kalah dalam keadaan bangkrut. Hal ini sangat menggambarkan situasi yang “win-win”, bertolak belakang dengan situasi “win-lose “ atau “zero sume game”.
Permainan congklak menuntut pemainnya untuk memiliki strategi yang fokus dan mengacu pada visi yang jelas. Bagaimana setiap pemain harus tetap mengisi “kantong-kantong” di wilayah lawan sebagai bagian dari strategi untuk memenangkan kompetisi. Hal tersebut mengajarkan kepada pemain agar tidak hanya berpikir untuk meraup keuntungan jangka pendek saja dengan menimbun “kantong-kantong” yang ada di wilayahnya karena setiap kantong yang ada di wilayahnya belum mutlak menjadi miliknya. Kesalahan strategi dan perhitungan justru bisa memberikan kesempatan bagi lawan untuk menguasai dan memiliki seluruh isi kantong di wilayah kita yang “gemuk” karena kita selalu menimbun.
Visi: Process or Result Oriented?
Menurut pandangan penulis, process oriented bukanlah berarti seseorang melakukan suatu strategi tanpa tujuan, namun justru diiringi oleh tujuan-tujuan antara yang selalu mendampingi selama proses dan sifatnya hakiki karena didasarkan nilai-nilai keilahian seperti jujur, sabar dan konsisten. Sedangkan result oriented menetapkan/memastikan sejak awal tujuan akhir yang akan dan harus dicapai dengan cara pembenaran apapun untuk dapat mencapainya. Walaupun tampak sejalan, namun karena tujuan yang ingin dicapai oleh mereka yang process oriented lebih bersifat kualitatif, maka seringkali hal tersebut tidak bisa diterima oleh mereka yang result oriented karena segala sesuatunya harus bisa dihitung alias kuantitatif (atau bahkan dikapitalisasi).
Kapitalisme bagaikan bola salju yang digelindingkan dari atas bukit dan diharuskan mencapai kaki bukit dengan skala tertentu yang lebih besar dan biasanya dengan waktu yang ditentukan pula. Karena tujuan akhir yang sudah ditentukan dan bahkan diperhitungkan, maka dianggap harus selalu ada cara untuk dapat mencapai tujuan tersebut dan tidak boleh ada excuse. Perumpamaan bola salju diatas, maka medan yang dihadapi selalu dianggap ”menurun” karena tempat tujuan akhir yang berada di bawah sehingga harus lancar dan mudah mencapainya. Setiap halangan yang ada membuat bolah ”memecah diri” atau jika sudah cukup besar akan menghantam halangan tersebut asal bisa sampai di bawah. Sesampainya di bawah yang berakhir di jurang, dari target hanya satu bola besar menjadi lebih banyak bola besar sehingga yang menjadi tujuan akhir tersebut justru tidak sanggup menampung begitu banyaknya bola yang tidak terduga. Lama-kelamaan tidak tertahan dan kaki bukitpun longsor. Sungguh sebuah tragedi!
Kita mungkin bisa bersatu saat berjuang menghadapi masalah. Namun, ujian terbesar justru datang saat kemenangan. Karena saat itulah nafsu serakah akan datang menggoda kita
Senin, 17 Januari 2011
MENYEMPURNAKAN PERENCANAAN KEUANGAN
“Cari sehat, cari selamat, cari uang; bila semua itu bisa dicapai, kita akan bisa beribadah lebih baik”. Demikian salah satu nasehat singkat yang sejak kecil ditanamkan oleh orangtua kepada saya berkaitan dengan bagaimana cara menjalani hidup. Pada waktu memasuki masa remaja yang merupakan usia-usia kritis memasuki gerbang kedewasaan, saya sempat mempertanyakan nasehat yang saya terima tersebut. Mengapa ibadah ditaruh di urutan belakang, apakah berarti ibadah bukan merupakan prioritas dalam hidup? Bukankah justru manusia hidup itu tujuannya semata-mata untuk beribadah kepada Sang Khalik?
Bertahun-tahun pertanyaan diatas mengusik batin saya, dan keinginan terus mendesak untuk mencari tahu hakekat dari makna nasehat yang disampaikan oleh orangtua saya diatas. Ternyata titik terang mulai muncul pada waktu saya mendapat kesempatan untuk mempelajari sedikit ilmu tentang perencanaan keuangan dan pengelolaan kekayaan.
Dalam perencanaan keuangan (financial planning), kita dikenalkan adanya 5 (lima) pilar dalam berinvestasi untuk mengelola kekayaan (wealth management). Kelima pilar tersebut adalah : Asset Allocation, Time Horison, Investment Objectives, Return Profile, & Periodic Review. Namun kelima pilar Financial Planning diatas dilatarbelakangi oleh konsep-konsep pemikiran kapitalisme yang mendorong setiap individu untuk senantiasa mencari, mengelola dan mengakumulasikan kekayaan (Wealth Management) yang diperolehnya dan diharapkan dapat menciptakan keabadian harta yang kita miliki termasuk untuk diwariskan kepada generasi penerus (estate planning) dalam rangka mendapatkan pengakuan yang abadi (eternal recognition) dari lingkungan dan masyarakat.
Pertanyaannya adalah apakah hal-hal tersebut benar merupakan tujuan akhir yang pasti dan hakiki yang harus dikejar manusia dalam kehidupannya? Apakah pengakuan dari manusia lain terhadap kemampuan mempertahankan kekayaan, kekuasaan/jabatan dan bentuk-bentuk kemapanan lain di dunia merupakan tujuan akhir kehidupan manusia? Kembali ke pertanyaan diatas, bukankah tujuan utama manusia hidup di dunia untuk beribadah kepada Sang Pencipta?
Memang sebagai manusia yang mengakui kekuasaan Allah atas diri kita, kewajiban beribadah kepadaNya merupakan tujuan hidup yang mutlak. Namun apakah berarti kita tidak diperbolehkan untuk memperkaya diri melalui usaha-usaha yang kita lakukan dalam mencari dan mengelola kekayaan?
Disinilah perlunya kita melengkapi perencanaan keuangan yang kita buat dengan satu konsep tambahan yang bisa disebut dengan perencanaan sedekah (Charity Planning). Bagaikan menu “4 sehat, 5 sempurna”, perencanaan sedekah menjadi penyempurna dari serangkaian kegiatan perencanaan keuangan yang telah kita buat. Semakin banyak akumulasi kekayaan yang kita dapatkan, maka semakin besar pula peluang untuk memperbesar investasi akherat kita melalui top-up tanpa ada biaya premi tambahan. Mengapa demikian?
Bayangkan, untuk setiap investasi akherat yang dilakukan melalui perencanaan sedekah ini Allah sama sekali tidak mengenakan subscription maupun maintenance fee kepada manusia kecuali keikhlasan dan ketulusan hati. Dan atas setiap investasi yang ditanam tersebut langsung mendapatkan tingkat pengembalian hingga 700%. Maka, nikmat Allah manakah yang akan didustakan manusia, karena setiap kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan berbalas kebaikan sesuai janji Allah.
Akhirnya, bagi saya semua ini akhirnya memberikan penjelasan tentang makna “Cari sehat, cari selamat, cari uang; bila semua itu bisa dicapai, kita akan bisa beribadah lebih baik”. Kesehatan dan keselamatan lahir dan batin merupakan modal utama manusia untuk dapat mencari rezeki yang penuh keberkahan. Dengan keberkahan rezeki yang kita peroleh inilah menjadikan kita manusia yang lebih bersyukur dan dapat beribadah lebih baik. Karena manusia yang lebih baik di mata Allah bukanlah manusia yang semata-mata banyak harta dan memiliki kekuasaan serta pengaruh, namun dengan harta dan kekuasaan serta pengaruhnya tersebut dia dapat memberikan kebaikan dan berguna bagi manusia lain.
Bertahun-tahun pertanyaan diatas mengusik batin saya, dan keinginan terus mendesak untuk mencari tahu hakekat dari makna nasehat yang disampaikan oleh orangtua saya diatas. Ternyata titik terang mulai muncul pada waktu saya mendapat kesempatan untuk mempelajari sedikit ilmu tentang perencanaan keuangan dan pengelolaan kekayaan.
Dalam perencanaan keuangan (financial planning), kita dikenalkan adanya 5 (lima) pilar dalam berinvestasi untuk mengelola kekayaan (wealth management). Kelima pilar tersebut adalah : Asset Allocation, Time Horison, Investment Objectives, Return Profile, & Periodic Review. Namun kelima pilar Financial Planning diatas dilatarbelakangi oleh konsep-konsep pemikiran kapitalisme yang mendorong setiap individu untuk senantiasa mencari, mengelola dan mengakumulasikan kekayaan (Wealth Management) yang diperolehnya dan diharapkan dapat menciptakan keabadian harta yang kita miliki termasuk untuk diwariskan kepada generasi penerus (estate planning) dalam rangka mendapatkan pengakuan yang abadi (eternal recognition) dari lingkungan dan masyarakat.
Pertanyaannya adalah apakah hal-hal tersebut benar merupakan tujuan akhir yang pasti dan hakiki yang harus dikejar manusia dalam kehidupannya? Apakah pengakuan dari manusia lain terhadap kemampuan mempertahankan kekayaan, kekuasaan/jabatan dan bentuk-bentuk kemapanan lain di dunia merupakan tujuan akhir kehidupan manusia? Kembali ke pertanyaan diatas, bukankah tujuan utama manusia hidup di dunia untuk beribadah kepada Sang Pencipta?
Memang sebagai manusia yang mengakui kekuasaan Allah atas diri kita, kewajiban beribadah kepadaNya merupakan tujuan hidup yang mutlak. Namun apakah berarti kita tidak diperbolehkan untuk memperkaya diri melalui usaha-usaha yang kita lakukan dalam mencari dan mengelola kekayaan?
Disinilah perlunya kita melengkapi perencanaan keuangan yang kita buat dengan satu konsep tambahan yang bisa disebut dengan perencanaan sedekah (Charity Planning). Bagaikan menu “4 sehat, 5 sempurna”, perencanaan sedekah menjadi penyempurna dari serangkaian kegiatan perencanaan keuangan yang telah kita buat. Semakin banyak akumulasi kekayaan yang kita dapatkan, maka semakin besar pula peluang untuk memperbesar investasi akherat kita melalui top-up tanpa ada biaya premi tambahan. Mengapa demikian?
Bayangkan, untuk setiap investasi akherat yang dilakukan melalui perencanaan sedekah ini Allah sama sekali tidak mengenakan subscription maupun maintenance fee kepada manusia kecuali keikhlasan dan ketulusan hati. Dan atas setiap investasi yang ditanam tersebut langsung mendapatkan tingkat pengembalian hingga 700%. Maka, nikmat Allah manakah yang akan didustakan manusia, karena setiap kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan berbalas kebaikan sesuai janji Allah.
Akhirnya, bagi saya semua ini akhirnya memberikan penjelasan tentang makna “Cari sehat, cari selamat, cari uang; bila semua itu bisa dicapai, kita akan bisa beribadah lebih baik”. Kesehatan dan keselamatan lahir dan batin merupakan modal utama manusia untuk dapat mencari rezeki yang penuh keberkahan. Dengan keberkahan rezeki yang kita peroleh inilah menjadikan kita manusia yang lebih bersyukur dan dapat beribadah lebih baik. Karena manusia yang lebih baik di mata Allah bukanlah manusia yang semata-mata banyak harta dan memiliki kekuasaan serta pengaruh, namun dengan harta dan kekuasaan serta pengaruhnya tersebut dia dapat memberikan kebaikan dan berguna bagi manusia lain.
Jumat, 28 Mei 2010
PROGRAM CSR PERBANKAN UNTUK PENDIDIKAN
Berminat melanjutkan studi di luar negeri? Jika pertanyaan ini diajukan kepada pemuda-pemudi Indonesia, sudah dapat dipastikan jawabannya adalah ya. Namun belum tentu semuanya menjawab dengan antusias. Mengapa demikian? Karena tidak semua orang merasa bisa memiliki kesempatan untuk studi di luar negeri. Dan yang menjadi kendala utama adalah masalah biaya, khususnya mereka yang berada di daerah dan tidak memiliki akses informasi.
Banyak putera-puteri daerah yang memiliki potensi akademis untuk melanjutkan pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri, namun terbentur oleh kendala besarnya biaya yang dibutuhkan. Padahal dengan adanya kesempatan belajar di negara lain akan memperluas wawasan dan cara berpikir global serta meningkatkan kemampuan berbahasa asing dalam rangka menyongsong era Pasar Bebas, selain sebagai bagian dari usaha pemerataan pembangunan. Untuk itu perlu membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra-putri Indonesia khususnya golongan menengah ke bawah yang berada di daerah untuk memiliki akses informasi yang sama, terutama melalui pendidikan.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu fokus utama pembangunan dalam rangka mencerdaskan bangsa sekaligus mempersiapkan generasi penerus yang siap bersaing di era globalisasi. Upaya yang dilakukan pemerintah termasuk menyalurkan dana-dana bantuan pendidikan luar negeri agar bisa mencapai jangkauan yang lebih luas.
Untuk membantu program-program pemerintah, bank-bank di Indonesia telah menyisihkan sebagian dana untuk disalurkan melalui program-program CSR (Corporate Social Responsibility), termasuk di bidang pendidikan. Diharapkan program-program tersebut mendorong pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya khususnya bagi mereka yang tidak mampu namun memiliki potensi.
Sebenarnya potensi ekonomi yang ada di daerah memungkinkan masyarakatnya untuk dapat membiayai putra-putrinya bersekolah tinggi hingga ke luar negeri. Beberapa hal yang mungkin menjadi kendala adalah:
• Jumlah penghasilan mereka umumnya tidak tetap (misalnya sebagai petani atau nelayan)
• Dibutuhkannya biaya yang cukup besar di awal untuk persiapan dan masa awal studi
• Kesulitan mencari sumber dana talangan, termasuk dari lembaga pembiayaan, karena sulitnya menilai kelayakan antara usaha yang dijadikan jaminan dengan tujuan pembiayaan (pendidikan anak)
• Kekhawatiran terhadap kemungkinan efek negatif terhadap perilaku putera-puteri mereka yang bersekolah di luar negeri (cultural shock)
Dari pengalaman Penulis, Australia dapat menjadi alternatif utama untuk studi di luar negeri dengan pertimbangan antara lain:
1. Letak geografisnya yang relatif dekat dengan Indonesia
2. Standar pendidikan yang kompetitif di tingkat global karena mayoritas universitas di Australia milik pemerintah dengan akreditasi dari lembaga-lembaga pendidikan di luar Australia seperti Eropa atau Amerika
3. Jenjang dan bidang studi yang semakin bervariasi dan menawarkan banyak pilihan sesuai trend perkembangan global
4. Banyaknya kesempatan beasiswa yang ditawarkan kepada putra-putri Indonesia dengan potensi terbaik baik dari pemerintah Australia seperti melalui ADS/Ausaid ataupun dari pihak swasta ataupun dari universitas sendiri.
5. Beberapa kota di Australia di luar Sydney dan Melbourne dapat direkomendasikan karena memiliki indeks biaya hidup (living cost) terendah, ditambah adanya fasilitas-fasilitas kemudahan (concessions) untuk pelajar/mahasiswa seperti transportasi umum
6. Banyaknya mahasiswa Indonesia yang sedang/telah menuntut ilmu di berbagai universitas dan adanya organisasi mahasiswa dan masyarakat Indonesia disana akan membantu dalam hal:
• Koordinasi mulai dari penjemputan sampai pengenalan wilayah untuk mempercepat adaptasi wilayah dan budaya termasuk melapor ke pewakilan pemerintah RI setempat
• Mendata dan merekomendasikan alternatif tempat tinggal yang layak dan relatif murah bagi para calon peserta
• Menjembatani komunikasi dengan pihak universitas serta memberikan mentoring untuk memudahkan mereka mengikuti pelajaran termasuk meminjamkan buku-buku teks yang digunakan
• Memberikan informasi dan rekomendasi untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu agar lebih cepat
• Membantu pengurusan dokumen dan hal-hal yang diperlukan agar dapat bekerja paruh waktu seperti visa kerja dari Imigrasi (DIMIA), registrasi pajak (TFN) dari ATO, dan pembukaan rekening bank
• Menginventarisir barang-barang mereka yang telah selesai studi dan akan pulang untuk didistribusikan kepada yang membutuhkan
• Mempersiapkan dana talangan (pinjaman) dari kas organisasi untuk kondisi yang benar-benar darurat dan membutuhkan likuiditas cepat
Agar program ini dapat direalisasikan dengan lebih efektif, maka perbankan perlu beraliansi dengan beberapa pihak terkait seperti:
1. Para alumni yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia untuk penyebaran informasi dan mencari bibit-bibit potensial serta memberikan pengarahan (orientation) dan bimbingan (counseling) kepada calon peserta dan orangtuanya yang telah menyatakan berminat termasuk mempersiapkan peserta mengikuti ujian potensi akademis seperti aptitude test, kemampuan bahasa Inggris, serta teknik wawancara yang akan menentukan kompetensi akademis masing-masing calon peserta
2. Lembaga pendidikan di negara tujuan (misalnya: Australia), dimana bank dapat membantu proses perekrutan para calon pelajar/mahasiswa yang berminat dan berpotensi, melalui kerjasama dengan International Office dimana bank berperan sebagai penghubung (liaison) melalui jaringan kantornya yang tersebut di seluruh wilayah Indonesia
3. Organisasi-organisasi masyarakat Indonesia di negara tujuan sebagai akses untuk mendapatkan akomodasi/tempat tinggal yang layak dan terjangkau serta jaringan informasi kesempatan bekerja yang luas agar dapat segera membiayai sendiri (swadana) studinya sehingga tidak terlalu lama bergantung dari dana beasiswa ataupun dana program CSR bank
Bagi perbankan, hal ini membuka peluang baru dalam alternatif penyaluran kredit sekaligus sebagai salah satu wujud kepedulian bank terhadap pembangunan sumberdaya manusia yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat melalui program-program CSR perbankan, yaitu untuk pembiayaan studi di luar negeri bagi putera-puteri yang memiliki potensi akademis dengan sumber pembayaran (repayment capacity) berasal dari usaha orangtuanya. Setelah adanya usulan calon-calon peserta yang telah diseleksi awal kompetensi akademisnya, bank akan melakukan peninjauan kondisi usaha orangtua untuk mengukur kesanggupan dan kelayakan mereka dalam mengembalikan pinjaman. Hasil akhir penilaian akan menentukan kemampuan finansiil calon peserta dalam hal repayment capacity.
Dari hasil seleksi potensi akademis dan finansiil, bagi mereka yang memenuhi syarat akan dibuat ranking dengan bobot yang ditentukan untuk masing-masing parameter (bobot akademis lebih besar dari bobot finansiil). Apabila pemeringkatan berdasarkan kemampuan akademis dan finansiil diatas siap, data tersebut kemudian diajukan kepada pihak yang terkait (ADS, Departemen Pendidikan Nasional RI, dan universitas-universitas di Australia khususnya yang menawarkan subsidi dana/beasiswa) untuk dipertimbangkan dari segi kelayakan.
Selain upaya diatas, alternatif bantuan pembiayaan adalah pemberian pinjaman lunak dari bank sebagai bagian dari program CSR untuk biaya persiapan dan periode awal studi. Selanjutnya calon-calon peserta akan diberikan bimbingan untuk memilih universitas/lembaga pendidikan yang sesuai minat disertai pembekalan tentang kondisi riil di negara tujuan sebagai fisik dan mental. Mereka juga akan dibantu dalam hal memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan seperti IELTS, dll., serta untuk mendaftarkan diri hingga memperoleh Letter of Offer. Persiapan bisa dilakukan di daerah asal berkoordinasi dengan persatuan alumni setempat, hingga dikumpulkan di Jakarta untuk persiapan keberangkatan.
Banyak putera-puteri daerah yang memiliki potensi akademis untuk melanjutkan pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri, namun terbentur oleh kendala besarnya biaya yang dibutuhkan. Padahal dengan adanya kesempatan belajar di negara lain akan memperluas wawasan dan cara berpikir global serta meningkatkan kemampuan berbahasa asing dalam rangka menyongsong era Pasar Bebas, selain sebagai bagian dari usaha pemerataan pembangunan. Untuk itu perlu membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra-putri Indonesia khususnya golongan menengah ke bawah yang berada di daerah untuk memiliki akses informasi yang sama, terutama melalui pendidikan.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu fokus utama pembangunan dalam rangka mencerdaskan bangsa sekaligus mempersiapkan generasi penerus yang siap bersaing di era globalisasi. Upaya yang dilakukan pemerintah termasuk menyalurkan dana-dana bantuan pendidikan luar negeri agar bisa mencapai jangkauan yang lebih luas.
Untuk membantu program-program pemerintah, bank-bank di Indonesia telah menyisihkan sebagian dana untuk disalurkan melalui program-program CSR (Corporate Social Responsibility), termasuk di bidang pendidikan. Diharapkan program-program tersebut mendorong pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya khususnya bagi mereka yang tidak mampu namun memiliki potensi.
Sebenarnya potensi ekonomi yang ada di daerah memungkinkan masyarakatnya untuk dapat membiayai putra-putrinya bersekolah tinggi hingga ke luar negeri. Beberapa hal yang mungkin menjadi kendala adalah:
• Jumlah penghasilan mereka umumnya tidak tetap (misalnya sebagai petani atau nelayan)
• Dibutuhkannya biaya yang cukup besar di awal untuk persiapan dan masa awal studi
• Kesulitan mencari sumber dana talangan, termasuk dari lembaga pembiayaan, karena sulitnya menilai kelayakan antara usaha yang dijadikan jaminan dengan tujuan pembiayaan (pendidikan anak)
• Kekhawatiran terhadap kemungkinan efek negatif terhadap perilaku putera-puteri mereka yang bersekolah di luar negeri (cultural shock)
Dari pengalaman Penulis, Australia dapat menjadi alternatif utama untuk studi di luar negeri dengan pertimbangan antara lain:
1. Letak geografisnya yang relatif dekat dengan Indonesia
2. Standar pendidikan yang kompetitif di tingkat global karena mayoritas universitas di Australia milik pemerintah dengan akreditasi dari lembaga-lembaga pendidikan di luar Australia seperti Eropa atau Amerika
3. Jenjang dan bidang studi yang semakin bervariasi dan menawarkan banyak pilihan sesuai trend perkembangan global
4. Banyaknya kesempatan beasiswa yang ditawarkan kepada putra-putri Indonesia dengan potensi terbaik baik dari pemerintah Australia seperti melalui ADS/Ausaid ataupun dari pihak swasta ataupun dari universitas sendiri.
5. Beberapa kota di Australia di luar Sydney dan Melbourne dapat direkomendasikan karena memiliki indeks biaya hidup (living cost) terendah, ditambah adanya fasilitas-fasilitas kemudahan (concessions) untuk pelajar/mahasiswa seperti transportasi umum
6. Banyaknya mahasiswa Indonesia yang sedang/telah menuntut ilmu di berbagai universitas dan adanya organisasi mahasiswa dan masyarakat Indonesia disana akan membantu dalam hal:
• Koordinasi mulai dari penjemputan sampai pengenalan wilayah untuk mempercepat adaptasi wilayah dan budaya termasuk melapor ke pewakilan pemerintah RI setempat
• Mendata dan merekomendasikan alternatif tempat tinggal yang layak dan relatif murah bagi para calon peserta
• Menjembatani komunikasi dengan pihak universitas serta memberikan mentoring untuk memudahkan mereka mengikuti pelajaran termasuk meminjamkan buku-buku teks yang digunakan
• Memberikan informasi dan rekomendasi untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu agar lebih cepat
• Membantu pengurusan dokumen dan hal-hal yang diperlukan agar dapat bekerja paruh waktu seperti visa kerja dari Imigrasi (DIMIA), registrasi pajak (TFN) dari ATO, dan pembukaan rekening bank
• Menginventarisir barang-barang mereka yang telah selesai studi dan akan pulang untuk didistribusikan kepada yang membutuhkan
• Mempersiapkan dana talangan (pinjaman) dari kas organisasi untuk kondisi yang benar-benar darurat dan membutuhkan likuiditas cepat
Agar program ini dapat direalisasikan dengan lebih efektif, maka perbankan perlu beraliansi dengan beberapa pihak terkait seperti:
1. Para alumni yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia untuk penyebaran informasi dan mencari bibit-bibit potensial serta memberikan pengarahan (orientation) dan bimbingan (counseling) kepada calon peserta dan orangtuanya yang telah menyatakan berminat termasuk mempersiapkan peserta mengikuti ujian potensi akademis seperti aptitude test, kemampuan bahasa Inggris, serta teknik wawancara yang akan menentukan kompetensi akademis masing-masing calon peserta
2. Lembaga pendidikan di negara tujuan (misalnya: Australia), dimana bank dapat membantu proses perekrutan para calon pelajar/mahasiswa yang berminat dan berpotensi, melalui kerjasama dengan International Office dimana bank berperan sebagai penghubung (liaison) melalui jaringan kantornya yang tersebut di seluruh wilayah Indonesia
3. Organisasi-organisasi masyarakat Indonesia di negara tujuan sebagai akses untuk mendapatkan akomodasi/tempat tinggal yang layak dan terjangkau serta jaringan informasi kesempatan bekerja yang luas agar dapat segera membiayai sendiri (swadana) studinya sehingga tidak terlalu lama bergantung dari dana beasiswa ataupun dana program CSR bank
Bagi perbankan, hal ini membuka peluang baru dalam alternatif penyaluran kredit sekaligus sebagai salah satu wujud kepedulian bank terhadap pembangunan sumberdaya manusia yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat melalui program-program CSR perbankan, yaitu untuk pembiayaan studi di luar negeri bagi putera-puteri yang memiliki potensi akademis dengan sumber pembayaran (repayment capacity) berasal dari usaha orangtuanya. Setelah adanya usulan calon-calon peserta yang telah diseleksi awal kompetensi akademisnya, bank akan melakukan peninjauan kondisi usaha orangtua untuk mengukur kesanggupan dan kelayakan mereka dalam mengembalikan pinjaman. Hasil akhir penilaian akan menentukan kemampuan finansiil calon peserta dalam hal repayment capacity.
Dari hasil seleksi potensi akademis dan finansiil, bagi mereka yang memenuhi syarat akan dibuat ranking dengan bobot yang ditentukan untuk masing-masing parameter (bobot akademis lebih besar dari bobot finansiil). Apabila pemeringkatan berdasarkan kemampuan akademis dan finansiil diatas siap, data tersebut kemudian diajukan kepada pihak yang terkait (ADS, Departemen Pendidikan Nasional RI, dan universitas-universitas di Australia khususnya yang menawarkan subsidi dana/beasiswa) untuk dipertimbangkan dari segi kelayakan.
Selain upaya diatas, alternatif bantuan pembiayaan adalah pemberian pinjaman lunak dari bank sebagai bagian dari program CSR untuk biaya persiapan dan periode awal studi. Selanjutnya calon-calon peserta akan diberikan bimbingan untuk memilih universitas/lembaga pendidikan yang sesuai minat disertai pembekalan tentang kondisi riil di negara tujuan sebagai fisik dan mental. Mereka juga akan dibantu dalam hal memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan seperti IELTS, dll., serta untuk mendaftarkan diri hingga memperoleh Letter of Offer. Persiapan bisa dilakukan di daerah asal berkoordinasi dengan persatuan alumni setempat, hingga dikumpulkan di Jakarta untuk persiapan keberangkatan.
YOU GIVE YOUR BEST, WE TAKE CARE OF THE REST
Penerapan konsep Strategic Business Unit (SBU) oleh suatu perusahaan yang memiliki organisasi besar dengan struktur yang relative kompleks mendorong setiap unit kerja untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerjanya yang secara riil diwujudkan dalam bentuk profitabilitas. Setiap unit bisnis didorong untuk dapat memiliki peran yang cukup strategis dalam pengembangan bisnis sesuai dengan segmen pekerjaan dan pelanggan yang dikelolanya dengan tujuan untuk dapat memberikan kontribusi terbesar dalam profitabilitas perusahaan. Untuk itu setiap unit bisnis dituntut agar dapat menjadikan unit kerjanya berorientasi bisnis.
Langkah yang telah dilakukan manajemen untuk mengantisipasi perubahan diatas adalah dengan menyesuaikan atau merubah struktur organisasi setiap unit bisnis agar menjadi lebih fokus dan dan efektif dalam menjalankan bisnis. Namun hal ini baru merupakan tahap awal dari proses untuk menjadikan organisasi lebih efektif. Selanjutnya diperlukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan interaksi fungsional antar unit kerja di bawah setiap bisnis unit agar dapat berkoordinasi dengan baik dalam pelaksanaan pekerjaan. Hal ini memerlukan keterlibatan dan kontribusi khususnya yang bersifat strategis dari seluruh pegawai agar tujuan pengembangan bisnis dapat tercapai.
Interaksi di tempat kerja tidak dapat dipungkiri menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pegawai, bahkan sebagian pegawai lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja daripada di rumah. Keseharian para pegawai di tempat kerja tentunya membuat mereka memahami apa yang terjadi di tempat kerjanya dan tentunya untuk pegawai yang kritis dan peduli akan dapat melihat jika ada hal-hal yang kurang selaras di pekerjaan dan dirasakan perlu untuk diperbaiki. Sebagai pegawai tentunya mereka berkepentingan pula terhadap kelancaran pelaksanaan pekerjaan yang berpengaruh terhadap kinerja baik individu maupun sebagai tim di unit bisnis.
Salah satu cara untuk merangsang keterlibatan para pegawai adalah dengan mengadakan kontes untuk menghimpun masukan-masukan yang sifatnya dapat mendorong akselerasi dalam proses pelaksanaan pekerjaan.
Bagaimana kontes tersebut berjalan? Mekanisme pelaksanaannya pada prinsipnya sangat sederhana. Kontes terbuka untuk seluruh pegawai dengan topik diarahkan pada hal-hal yang dapat meningkatkan fungsi strategis unit bisnis. Pegawai dapat mengikuti kontes baik secara individu maupun secara tim maksimum 2 (dua) orang.
Pegawai yang mendaftar sebagai peserta harus menyerahkan tema yang akan dibahas kepada Tim Panitia. Tema-tema yang masuk kemudian dicek ulang untuk memastikan tidak ada tema yang dianggap sama atau menjurus sama. Dalam hal demikian, maka peserta diberi kesempatan untuk meyakinkan Tim bahwa tema yang diajukannya berbeda, atau mengganti dengan tema lain.
Hasil karya peserta dalam bentuk paper terstruktur yang memuat Permasalahan, Pembahasan dan Kesimpulan, serta dibatasi jumlah halamannya untuk memastikan peserta menggunakan bahasa yang efektif dalam penyampaian idenya. Peserta juga harus menyiapkan rangkuman tulisannya dalam format presentasi.
Adapun faktor-faktor yang akan dijadikan pertimbangan dalam menilai karya peserta meliputi:
1. Originality: tulisan harus merupakan karya asli peserta. Diperkenankan sumber ide tulisan diinspirasikan dari karya orang lain namun harus disertai modifikasi maupun improvisasi sehingga tidak menjiplak secara utuh.
2. Content: isi tulisan harus mencakup tema-tema yang bersifat strategis bagi pengembangan bisnis WMG baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya tentang :
• Strategic Alliance : bagaimana menciptakan keselarasan interaksi antar unit kerja serta menciptakan sinergi dalam menyelesaikan pekerjaan baik secara internal unit bisnis maupun dengan unit kerja lain di Bank Mandiri.
• Service Quality : usaha-usaha meningkatkan customer perceived value (internal/eksternal) atau pihak-pihak terkait lain terhadap service level yang diberikan unit bisnis baik yang bersifat tangible maupun intangible.
• Area Focus : isi tulisan agar diarahkan pada satu aspek tertentu yang menurut peserta perlu ditingkatkan, misalnya untuk unit bisnis yang langsung berhubungan dengan nasabah bisa meliputi aspek Product, People, Channel, ataupun Marketing Strategy.
• Profit Concern : organisasi yang berbasis SBU menitikberatkan pada profitabilitas. Karenanya peserta dapat mencantumkan upaya-upaya untuk meningkatkan revenue dan/atau menurunkan cost bank termasuk pengelolaan expenses secara optimal.
Tema yang dipilih bisa mencakup salah satu atau kombinasi dari tema-tema diatas. Namun perlu dipertimbangkan bahwa bagaimanapun cakupan tema yang dipilih harus tetap dibahas secara spesifik dan tajam.
3. Applicability: Bagaimanapun bagusnya usulan yang dibuat tentulah jadi berkurang manfaatnya apabila tidak dapat langsung diterapkan di unit kerja. Seberapa dekat keterkaitannya dengan kondisi pekerjaan saat ini menentukan nilai tulisan yang disampaikan peserta.
4. Writing Skill: menyangkut dua hal yang berkaitan dengan teknik dan gaya penulisan, yaitu:
• Sistematika (struktur & alur tulisan)
• Tata Bahasa (pemilihan kata dan bentuk kalimat yang komunikatif)
5. Presentation Skill: bagaimana peserta menyampaikan idenya secara verbal termasuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan bahwa idenya akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Sistem penilaian didasarkan atas pembobotan terhadap masing-masing faktor yang dijadikan aspek penilaian. Bobot yang diberikan untuk masing-masing aspek disesuaikan dengan korelasinya untuk mengukur kompetensi peserta sesuai sistem penilaian terlampir.
Sebagaimana halnya sebuah Kontesm, maka pemenangnya akan mendapatkan hadiah. Sesuai dengan tujuan dilaksanakannya kontes yaitu untuk merangsang kepedulian pegawai dan keinginan untuk memberikan kontribusi terhadap perusahaan, maka hadiah yang diberikan diharapkan dapat mengapresiasi pegawai agar selalu kompeten dan concern terhadap pekerjaannya.
Untuk itu hadiah yang diberikan diusulkan agar dapat diberikan dalam dua bentuk, yaitu:
• Langsung dapat dinikmati pegawai, misalnya dalam bentuk tunai ataupun barang;
• Tidak langsung, yaitu berupa contribution point/cum yang menjadi nilai tambah dalam penilaian pegawai.
Dengan diadakannya kontes ini, maka diharapkan dapat membiasakan pegawai untuk memiliki sikap peduli terhadap lingkungan kerja serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kualitas hasil pekerjaan.
Langkah yang telah dilakukan manajemen untuk mengantisipasi perubahan diatas adalah dengan menyesuaikan atau merubah struktur organisasi setiap unit bisnis agar menjadi lebih fokus dan dan efektif dalam menjalankan bisnis. Namun hal ini baru merupakan tahap awal dari proses untuk menjadikan organisasi lebih efektif. Selanjutnya diperlukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan interaksi fungsional antar unit kerja di bawah setiap bisnis unit agar dapat berkoordinasi dengan baik dalam pelaksanaan pekerjaan. Hal ini memerlukan keterlibatan dan kontribusi khususnya yang bersifat strategis dari seluruh pegawai agar tujuan pengembangan bisnis dapat tercapai.
Interaksi di tempat kerja tidak dapat dipungkiri menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pegawai, bahkan sebagian pegawai lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja daripada di rumah. Keseharian para pegawai di tempat kerja tentunya membuat mereka memahami apa yang terjadi di tempat kerjanya dan tentunya untuk pegawai yang kritis dan peduli akan dapat melihat jika ada hal-hal yang kurang selaras di pekerjaan dan dirasakan perlu untuk diperbaiki. Sebagai pegawai tentunya mereka berkepentingan pula terhadap kelancaran pelaksanaan pekerjaan yang berpengaruh terhadap kinerja baik individu maupun sebagai tim di unit bisnis.
Salah satu cara untuk merangsang keterlibatan para pegawai adalah dengan mengadakan kontes untuk menghimpun masukan-masukan yang sifatnya dapat mendorong akselerasi dalam proses pelaksanaan pekerjaan.
Bagaimana kontes tersebut berjalan? Mekanisme pelaksanaannya pada prinsipnya sangat sederhana. Kontes terbuka untuk seluruh pegawai dengan topik diarahkan pada hal-hal yang dapat meningkatkan fungsi strategis unit bisnis. Pegawai dapat mengikuti kontes baik secara individu maupun secara tim maksimum 2 (dua) orang.
Pegawai yang mendaftar sebagai peserta harus menyerahkan tema yang akan dibahas kepada Tim Panitia. Tema-tema yang masuk kemudian dicek ulang untuk memastikan tidak ada tema yang dianggap sama atau menjurus sama. Dalam hal demikian, maka peserta diberi kesempatan untuk meyakinkan Tim bahwa tema yang diajukannya berbeda, atau mengganti dengan tema lain.
Hasil karya peserta dalam bentuk paper terstruktur yang memuat Permasalahan, Pembahasan dan Kesimpulan, serta dibatasi jumlah halamannya untuk memastikan peserta menggunakan bahasa yang efektif dalam penyampaian idenya. Peserta juga harus menyiapkan rangkuman tulisannya dalam format presentasi.
Adapun faktor-faktor yang akan dijadikan pertimbangan dalam menilai karya peserta meliputi:
1. Originality: tulisan harus merupakan karya asli peserta. Diperkenankan sumber ide tulisan diinspirasikan dari karya orang lain namun harus disertai modifikasi maupun improvisasi sehingga tidak menjiplak secara utuh.
2. Content: isi tulisan harus mencakup tema-tema yang bersifat strategis bagi pengembangan bisnis WMG baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya tentang :
• Strategic Alliance : bagaimana menciptakan keselarasan interaksi antar unit kerja serta menciptakan sinergi dalam menyelesaikan pekerjaan baik secara internal unit bisnis maupun dengan unit kerja lain di Bank Mandiri.
• Service Quality : usaha-usaha meningkatkan customer perceived value (internal/eksternal) atau pihak-pihak terkait lain terhadap service level yang diberikan unit bisnis baik yang bersifat tangible maupun intangible.
• Area Focus : isi tulisan agar diarahkan pada satu aspek tertentu yang menurut peserta perlu ditingkatkan, misalnya untuk unit bisnis yang langsung berhubungan dengan nasabah bisa meliputi aspek Product, People, Channel, ataupun Marketing Strategy.
• Profit Concern : organisasi yang berbasis SBU menitikberatkan pada profitabilitas. Karenanya peserta dapat mencantumkan upaya-upaya untuk meningkatkan revenue dan/atau menurunkan cost bank termasuk pengelolaan expenses secara optimal.
Tema yang dipilih bisa mencakup salah satu atau kombinasi dari tema-tema diatas. Namun perlu dipertimbangkan bahwa bagaimanapun cakupan tema yang dipilih harus tetap dibahas secara spesifik dan tajam.
3. Applicability: Bagaimanapun bagusnya usulan yang dibuat tentulah jadi berkurang manfaatnya apabila tidak dapat langsung diterapkan di unit kerja. Seberapa dekat keterkaitannya dengan kondisi pekerjaan saat ini menentukan nilai tulisan yang disampaikan peserta.
4. Writing Skill: menyangkut dua hal yang berkaitan dengan teknik dan gaya penulisan, yaitu:
• Sistematika (struktur & alur tulisan)
• Tata Bahasa (pemilihan kata dan bentuk kalimat yang komunikatif)
5. Presentation Skill: bagaimana peserta menyampaikan idenya secara verbal termasuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan bahwa idenya akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Sistem penilaian didasarkan atas pembobotan terhadap masing-masing faktor yang dijadikan aspek penilaian. Bobot yang diberikan untuk masing-masing aspek disesuaikan dengan korelasinya untuk mengukur kompetensi peserta sesuai sistem penilaian terlampir.
Sebagaimana halnya sebuah Kontesm, maka pemenangnya akan mendapatkan hadiah. Sesuai dengan tujuan dilaksanakannya kontes yaitu untuk merangsang kepedulian pegawai dan keinginan untuk memberikan kontribusi terhadap perusahaan, maka hadiah yang diberikan diharapkan dapat mengapresiasi pegawai agar selalu kompeten dan concern terhadap pekerjaannya.
Untuk itu hadiah yang diberikan diusulkan agar dapat diberikan dalam dua bentuk, yaitu:
• Langsung dapat dinikmati pegawai, misalnya dalam bentuk tunai ataupun barang;
• Tidak langsung, yaitu berupa contribution point/cum yang menjadi nilai tambah dalam penilaian pegawai.
Dengan diadakannya kontes ini, maka diharapkan dapat membiasakan pegawai untuk memiliki sikap peduli terhadap lingkungan kerja serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kualitas hasil pekerjaan.
TIGA MENUJU SEMPURNA
“High achievement comes from high aims.”
- King Ching of Chou (1100 B.C.)
Dalam suatu sesi training yang Penulis ikuti, pernah muncul pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta training dari unit kerja lain. Pertanyaan yang diajukan sekilas terdengar sangat “rutin” dan bernada mengeluh: Sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh manajemen? Sebelumnya seluruh unit kerja diberikan arahan untuk memfokuskan target kepada pencapaian contribution margin. Namun kemudian seperti ada perubahan target dari manajemen yang semula fokus pada contribution margin beralih ke market share. Apakah yang sebenarnya ingin dituju manajemen?
Menurut Penulis, apa yang dilakukan oleh manajemen perusahaan seperti hal diatas belum tentu merupakan perubahan kontroversial yang muncul akibat distorsi ataupun disorientasi target yang dialami manajemen. Justru tampaknya hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi manajemen dalam mengkalibrasikan target serta merealisasikan upaya-upaya pencapaiannya. Karena organisasi bisnis manapun tentunya akan menempatkan laba sebagai tujuan utama, atau seperti istilah sehari-hari yang sering kita dengar bahwa tujuan utama adalah “Ujung-ujungnya duit!”.
Lantas bagaimana hubungan antara contribution margin dan market share? Contribution margin (CM) merupakan indikasi besarnya keuntungan yang bisa diciptakan oleh suatu perusahaan dari transaksi produk dan jasa yang dilakukannya dengan counterparty. Sementara market share (MS) biasanya dijadikan indikasi terhadap kesuksesan perusahaan dalam melakukan penetrasi di pasar.
Dari penjelasan diatas, pertanyaannya adalah apakah suatu perusahaan yang memiliki CM besar berarti akan mampu melakukan penetrasi pasar lebih agresif? Atau justru bila memiliki MS yang dominan maka suatu perusahaan akan mampu menciptakan CM yang besar? Atau bahkan hubungan keduanya seperti ayam dan telur?
Sebetulnya kedua premis diatas benar, namun memerlukan satu aspek lagi untuk bisa membuat hubungannya tidak seperti ayam dan telur, yaitu adanya brand equity. Brand equity (BE) dapat dipahami secara bebas sebagai marketing value yang diberikan oleh brand perusahaan sebagai intangible asset dimana keberadaannya bisa meningkatkan positioning perusahaan maupun produk-produk yang dijualnya. Seperti ungkapan sehari-hari yang sering kita dengar “Posisi menentukan prestasi”, semakin baik posisi brand suatu perusahaan, maka akan besar peluang perusahaan tersebut untuk dapat menikmati premium price karena semakin tinggi positioning suatu brand biasanya semakin rendah sensitifitas pelanggan terhadap harga produk dan/atau jasa yang dipasarkan dengan brand tersebut.
Keterkaitan ketiganya adalah dengan adanya brand equity yang dinilai tinggi oleh masyarakat (baca: konsumen), maka berarti mereka mempersepsikan produk/jasa yang dikaitkan dengan brand tersebut memiliki kualitas tinggi pula. Akibatnya penetrasi pasar yang dilakukan biasanya akan lebih mudah karena persepsi positif yang dimiliki masyarakat terhadap brand tersebut. Ditambah dengan adanya premium price yang dimiliki, maka kombinasi keduanya akan meningkatkan MS dan CM. Dalam konteks keilmiahan, bias dikatakan BE berperan sebagai independent variable sementara dua lainnya menjadi dependent variable.
Namun demikian, keberadaan ketiganya dalam perusahaan dapat diibaratkan seperti tripod yang melambangkan kehandalan dalam menopang kestabilan posisi benda yang didukung. Namun demikian, kesempurnaan dukungannya tergantung pada keseimbangan ketiga kakinya yang menjadi kekuatan utama.
Artinya, suatu perusahaan yang didukung oleh adanya ketiga hal yaitu CM, MS dan BE memiliki potensi kekuatan yang akan menopang eksistensi perusahaan secara konsisten. Yang selanjutnya perlu dilakukan adalah bagaimana strategi mengembangkan dan memelihara ketiganya secara simultan agar tumbuh seimbang dalam perusahaan sehingga benar-benar dapat menjadi tiang penopang yang sempurna bagi perusahaan.
Ketidakseimbangan pertumbuhan ketiga hal tersebut dalam perusahaan dapat diibaratkan seperti sebuah tripod yang memiliki tiga kaki yang tidak sama panjang. Bayangkan tripod yang kaki-kakinya tidak seimbang, akibatnya walaupun tripod tersebut masih tetap dapat berdiri dan berfungsi menopang, namun dengan salah satu saja kakinya lebih pendek maka tripod tersebut tidak akan mencapai ketinggian yang ideal yang diperlukan seorang fotografer untuk mendapatkan sudut yang tepat dalam membidik obyek.
Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana meningkatkan BE? Menyitir ucapan Henry Ford “You can’t build a reputation on what you are going to do”, maka segera lakukan inovasi atau diferensiasi agar brand yang dimiliki selalu menjadi yang pertama diingat oleh konsumen diantara seluruh brand pesaing (top of mind/brand salience). Dalam beberapa kasus pemuatan iklan secara gencar kelihatannya dapat meningkatkan awareness konsumen walaupun belum bisa dibuktikan keterkaitan langsung antara iklan dengan peningkatan akuisisi pelanggan.
Cara lainnya adalah dengan masuk ke niche market. Namun upaya ini harus diiringi dengan kemampuan untuk mengedukasi (baca: men-drive) kebutuhan konsumen yang lebih luas untuk segmen tersebut dalam rangka memperluas pasar. Tetap waspada, karena para pesaingpun tentu akan berusaha masuk ke niche market yang menggairahkan. Maka jika ketiga kaki tripod sudah tegak berdiri dengan kokoh, lensa sudah terpasang dengan mantap …… let’s shoot the market!!
- King Ching of Chou (1100 B.C.)
Dalam suatu sesi training yang Penulis ikuti, pernah muncul pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta training dari unit kerja lain. Pertanyaan yang diajukan sekilas terdengar sangat “rutin” dan bernada mengeluh: Sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh manajemen? Sebelumnya seluruh unit kerja diberikan arahan untuk memfokuskan target kepada pencapaian contribution margin. Namun kemudian seperti ada perubahan target dari manajemen yang semula fokus pada contribution margin beralih ke market share. Apakah yang sebenarnya ingin dituju manajemen?
Menurut Penulis, apa yang dilakukan oleh manajemen perusahaan seperti hal diatas belum tentu merupakan perubahan kontroversial yang muncul akibat distorsi ataupun disorientasi target yang dialami manajemen. Justru tampaknya hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi manajemen dalam mengkalibrasikan target serta merealisasikan upaya-upaya pencapaiannya. Karena organisasi bisnis manapun tentunya akan menempatkan laba sebagai tujuan utama, atau seperti istilah sehari-hari yang sering kita dengar bahwa tujuan utama adalah “Ujung-ujungnya duit!”.
Lantas bagaimana hubungan antara contribution margin dan market share? Contribution margin (CM) merupakan indikasi besarnya keuntungan yang bisa diciptakan oleh suatu perusahaan dari transaksi produk dan jasa yang dilakukannya dengan counterparty. Sementara market share (MS) biasanya dijadikan indikasi terhadap kesuksesan perusahaan dalam melakukan penetrasi di pasar.
Dari penjelasan diatas, pertanyaannya adalah apakah suatu perusahaan yang memiliki CM besar berarti akan mampu melakukan penetrasi pasar lebih agresif? Atau justru bila memiliki MS yang dominan maka suatu perusahaan akan mampu menciptakan CM yang besar? Atau bahkan hubungan keduanya seperti ayam dan telur?
Sebetulnya kedua premis diatas benar, namun memerlukan satu aspek lagi untuk bisa membuat hubungannya tidak seperti ayam dan telur, yaitu adanya brand equity. Brand equity (BE) dapat dipahami secara bebas sebagai marketing value yang diberikan oleh brand perusahaan sebagai intangible asset dimana keberadaannya bisa meningkatkan positioning perusahaan maupun produk-produk yang dijualnya. Seperti ungkapan sehari-hari yang sering kita dengar “Posisi menentukan prestasi”, semakin baik posisi brand suatu perusahaan, maka akan besar peluang perusahaan tersebut untuk dapat menikmati premium price karena semakin tinggi positioning suatu brand biasanya semakin rendah sensitifitas pelanggan terhadap harga produk dan/atau jasa yang dipasarkan dengan brand tersebut.
Keterkaitan ketiganya adalah dengan adanya brand equity yang dinilai tinggi oleh masyarakat (baca: konsumen), maka berarti mereka mempersepsikan produk/jasa yang dikaitkan dengan brand tersebut memiliki kualitas tinggi pula. Akibatnya penetrasi pasar yang dilakukan biasanya akan lebih mudah karena persepsi positif yang dimiliki masyarakat terhadap brand tersebut. Ditambah dengan adanya premium price yang dimiliki, maka kombinasi keduanya akan meningkatkan MS dan CM. Dalam konteks keilmiahan, bias dikatakan BE berperan sebagai independent variable sementara dua lainnya menjadi dependent variable.
Namun demikian, keberadaan ketiganya dalam perusahaan dapat diibaratkan seperti tripod yang melambangkan kehandalan dalam menopang kestabilan posisi benda yang didukung. Namun demikian, kesempurnaan dukungannya tergantung pada keseimbangan ketiga kakinya yang menjadi kekuatan utama.
Artinya, suatu perusahaan yang didukung oleh adanya ketiga hal yaitu CM, MS dan BE memiliki potensi kekuatan yang akan menopang eksistensi perusahaan secara konsisten. Yang selanjutnya perlu dilakukan adalah bagaimana strategi mengembangkan dan memelihara ketiganya secara simultan agar tumbuh seimbang dalam perusahaan sehingga benar-benar dapat menjadi tiang penopang yang sempurna bagi perusahaan.
Ketidakseimbangan pertumbuhan ketiga hal tersebut dalam perusahaan dapat diibaratkan seperti sebuah tripod yang memiliki tiga kaki yang tidak sama panjang. Bayangkan tripod yang kaki-kakinya tidak seimbang, akibatnya walaupun tripod tersebut masih tetap dapat berdiri dan berfungsi menopang, namun dengan salah satu saja kakinya lebih pendek maka tripod tersebut tidak akan mencapai ketinggian yang ideal yang diperlukan seorang fotografer untuk mendapatkan sudut yang tepat dalam membidik obyek.
Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana meningkatkan BE? Menyitir ucapan Henry Ford “You can’t build a reputation on what you are going to do”, maka segera lakukan inovasi atau diferensiasi agar brand yang dimiliki selalu menjadi yang pertama diingat oleh konsumen diantara seluruh brand pesaing (top of mind/brand salience). Dalam beberapa kasus pemuatan iklan secara gencar kelihatannya dapat meningkatkan awareness konsumen walaupun belum bisa dibuktikan keterkaitan langsung antara iklan dengan peningkatan akuisisi pelanggan.
Cara lainnya adalah dengan masuk ke niche market. Namun upaya ini harus diiringi dengan kemampuan untuk mengedukasi (baca: men-drive) kebutuhan konsumen yang lebih luas untuk segmen tersebut dalam rangka memperluas pasar. Tetap waspada, karena para pesaingpun tentu akan berusaha masuk ke niche market yang menggairahkan. Maka jika ketiga kaki tripod sudah tegak berdiri dengan kokoh, lensa sudah terpasang dengan mantap …… let’s shoot the market!!
Langganan:
Postingan (Atom)